Rabu, 01 Oktober 2014

ZHAM SASTERA (MENSTIMULUS HASRAT MENULIS)

Tidak ada orang yang ujug-ujug gemar menulis. Seseorang pasti melaui proses panjang/pendek agar cinta menulis. Bila kita menginginkan anak, teman, istri atau kita sendiri agar suka menulis maka kita harus tahu bagaimana cara menstimulus hasrat menulisnya.  Tanpa melakukan ikhtiar ini, tapi langsung meminta atau bahkan memaksa anak/orang lain untuk gemar menulis maka itu sebuah ‘penyiksaan’ yang bisa berdampak buruk.

Lantas, bagaimanakah cara menstimulus hasrat menulis yang efektif?

Hasrat (menulis) amat berbeda dengan makan, tidur, dan kebutuhan fisik lainnya. Kebutuhan fisik (hajatul-udhawiyah) muncul dari internal tubuh. Manusia merasakan kebutuhan makan saat ia lapar sebab adanya kebutuhan organ tubuhnya pada zat-zat yang terkandung di dalam makanan. Ia juga merasakan kebutuhan akan tidur atau istirahat setelah iamengantuk, terlalu lelah, dan organ tubuhnya tidak mampu berfungsi (baik) bila ia tidak tidur atau istirahat.

Pemenuhan kebutuhan jasmani adalah sebuah keharusan. Kalau tidak terpenuhi, akan mengantarkan manusia pada kerusakan dan bahkan berakhir pada kematian. Orang yang lapar, misalnya, bila ia tidak makan terus-menerus akan menyebabkan ia lemas, tidak bertenaga, dan lama kelamaan ia mati kelaparan.

Adapun hasrat adalah naluri (gharizah), yang muncul dari faktor eksternal. Misalnya, saat seorang pemuda melihat gadis cantik maka bangkitlah rasa cinta terhadap lawan jenisnya, salah satu penampakan naluri seksualnya. Ketika ia melihat mayat maka bangkitlah pemikirannya tentang kelemahannya, salah satu penampakan naluri beragama. Begitu pula, ketika ia melihat seorang penulis sukses dan mendapatkan harta yang banyak maka bangkitlah rasa ingin untuk bisa meneladaninya, sebagai salah satu penampakan naluri mempertahankan diri.

Pemenuhan kebutuhan naluri bukanlah suatu keharusan. Apabila hal itu tidak terpenuhi, tidak menyebabkan manusia binasa atau mati. Kebutuhan naluri (saat muncul) hanya akan bikin galau atau risau. Bahkan, kebutuhan naluri bisa dialihkan dengan cara melupakannya atau sibuk dengan hal-hal lain. Begitu pula, hasrat menulis bisa hilang bila kita mampu move on. Sehingga, tidak menyebabkan apa-apa, tidak bikin pathek’en apalagi binasa.

Karena itu, hasrat menulis bisa dibangkitkan dengan menghadirkan rangsangannya. Semakin kuat rangsangannya akan menyebabkan semakin tinggi hasrat menulis dan tingkat kegalauannya sehingga semakin besar dorongannya untuk menulis dan terus berkarya.

Bila rangsangannya melemah atau menghilang, maka membuat hasrat menulis kecil dan hilang pula. Tidak bikin galau ataupun loyo. Betapa banyak orang berminat menulis, tapi ya sekadar minat. Tak lama kemudian mereka dengan ‘bahagia’ melupakannya.  Karenanya, menurut Arswendo,  seseorang tidak cukup sekadar kepingin menulis untuk dapat menghasilkan karya (buku) tapi harus B3, yaitu Butuh Banget Berprestasi (need for achievement).

Dengan begitu, kita harus berikhtiar untuk terus menstimulus hasrat menulis (bagi diri sendiri, istri/suami, anak, dsb) bila kesuksesan melahirkan tulisan yang diinginkan. Ikhtiar yang bisa ditempuh di antaranya adalah:

    Pertama, suka ketemu penulis, baik secara personal maupun di komunitas penulis. Stimulus paling efektif bagi anak agar gemar menulis adalah teladan orangtua atau orang dekat lainnya. Selain kesukaannya meniru, seorang anak juga akan mendapatkan bimbingan yang lebih baik dari mereka yang sudah menulis. Bergaul dengan penulis dan segala interaksi di komunitas penulis juga cukup efektif untuk menjaga kestabilan hasrat menulis, selain untuk memunculkan isnpirasi dan mempertajam teknik menulis.

    Kedua, suka ke toko buku, perpustakaan dan bazar buku. Hasrat menulis seseorang bisa tumbuh dari intensitas interaksinya dengan buku hingga ia mencintainya dan ingin menciptakannya pula. Penulis sukses umumnya seorang pembaca yang baik. Cintanya terhadap buku pada akhirnya diartikulasikan pada buku pula melalui tulisan-tulisannya.

   Ketiga, suka menghadiri momentum literasi seperti bedah buku, penganugerahan hadiah kepada penulis terbaik (misalnya Khatulistiwa Literary Award), konferensi penulis (cilik), Indonesia book fair ataupun Islamic book fair. Faktor ini juga dapat memacu gairah menulis.

    Keempat, menghadirkan segala sesuatu lainnya yang dapat merangsang hasrat menulis, seperti tersedianya sarana menulis yang menarik, pelatihan menulis yang mengasyikkan, adanya lomba atau tantangan menulis yang menggiurkan, dan gemar membaca yang memberdayakan.

Demikianlah poin-poinnya. Tentunya masih ada hal-hal lain yang senantiasa kita gali untuk menumbuhkan hasrat menulis. Bahkan yang sifatnya ‘kebetulan’ juga ada, seperti kebetulan dapat pekerjaan di penerbitan yang lama-kelamaan menjadi penulis (senang menulis). Kebetulan dapat istri/suami penulis yang pada gilirannya ikutan menulis. Dan, kebetulan-kebetulan lainnya. Namun, bilakah kita menunggu kebetulan? Sementara kita merasa jalan ini baik bagi kita atau anak kita. Inilah sebuah ikhtiar menstimulus hasrat menulis. Semoga bermanfaat. Salam.

Di kutip dari Web : www.pesantrenpenulis.com
[] Oleh: Hanjaeli


Tidak ada komentar:

Posting Komentar