Rabu, 23 Oktober 2013

FILSAFAT ISLAM ( Ya'kub ibnu Ishaq al-Kindi )



A.      Pendahuluan
Falsafat atau filsafat adalah merupakan kata yang berasal dari bahasa yunani yaitu philosophia sebagai gabungan dari philein yang berarti ”cinta“ dan shoppos yang berarti “hikmah“. Kemudian philosophia masuk kedalam bahasa arab menjadi Falsafat yang berarti cara berfikir menurut kogika dengan bebas, sedalam –dalamnya sampai kepada dasar persoalan.

Dari segi praktisnya berfilsafat berarti “berfikir“ . filsafat berarti “alam fikiran“ atau “alam berfikir”. Namun demikian tidak semua berfikir berarti berfilsafat.Sidi Gazalba mengartikan “berfilsafat“ berarti mencari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan,berfikir secara radikal, sistematis,dan universal. Dapatlah dikatakan bahwa intisari filsafat ialah berfikir secara logika dengan bebas ( tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama ) dan dengan sedalam – dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar persoalan.

Agama yang berarti menguasai diri seorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada tuhan dengan menjalankan ajaran agama. intisari yang terkandung didalamnya adalah “ ikatan “. Agama mengandung arti ikatan – ikatan yanag harus dipegang dan dipatuhi manusia. Karena mempunyai pengaruh dalam aktivitas manusia. Dan ikatan itu, mempunyai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra.

Filsafat bagi al-kindi ialah pengetahuan tentang yang benar. Disinilah terdapat persamaan filsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar apa yang baik.demikian halnya filsafat. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal,dan filsafat juga menggunakan akal. Yang benar pertama bagi al-kindi ialah Tuhan dan filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan. Bahkan al-kindi berani mengatakan bagi orang yang menolak filsafat, telah mengingkari kebenaran, dan menggolongkannya kepada “kafir”, karena orang – orang tersebut telah jauh dari kebenaran, walaupun menganggap dirinya paling benar. Karena keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan:(1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian dan,(3) menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam Agama.

B pembahasan
a.Sejarah hidupnya
Namanya lengkapnya adalah Abu yusup Ya’qub bin ishaq bin sabah bin imran bin ismail bin muhamadh bin al-ay’ats bain qais al-kindi. Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-KindiKeturunan Suku Kindah Ia lahir di kufah sekitar 185H(801) dari keluarga kaya dan terhormat kakek buyutnya,Al-Ay’ts ibn qais adalah sahabat nabi yang gugur bersama sa’ad bin abi waqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia  di Irak.  Sedangkan .  Ayahnya – Ishaq bin Shabah – A/Emir (Gubernur) Kuffah pada zaman Khalifah Daulah Abbasiyah dipimpin Muhammad bin Mansur al-Mahdi (775-785M), Abu Muhammad Musa bin al-Mahdi al-Hadi (785-786 M) dan Harun al-Rasyid (786-809 M).Ishaq bin Shabah keturunan langsung dari al-Ash‘ath b. Qays (Kepala Suku Kindah), sahabat Nabi Muhammad SAW. 
  Pendidikan  pada waktu kecil tidak diketahui. Ada riwayat yang menerangkan bahwa al-kindi pelajar di Basra dan bagdad. Ia termasuk cerdas , menguasai bahasa yunani dan bahasa suryani di samping bahasa arab, seatu yang berlebihan dan jarang yang dimimiliki orang masa itu. Ia hidup pada masa dinasti abasiyah,yaitu Al-Amin(813-813), Al-Ma’mun (813-833)al-mu’tasim(833-842).awas’siq(842- 847) dan al-mutwakil(847-861). Kelibihan-kelibihan yang dimiliki al-kindi menyebabkan dirinya sebagai diangkat sebagai guru dan tabib kerajajan.
Al-kindi dikenal sebagi filusuf muslim yang pertama karena ia orang isalm yang pertama memdalami ilmu-ilimu fiiilsafat. Hinga abad ke-2H / 7 M,imu filsafat masih didominasi orang-orang Kristen suriah. Dikenal sebagai seorang penerjermah ,al-kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat hinelenisme. Bahkan ia dikenal sebagagai pemikir muslim yang pertama yang meghubungkan dan menyelaraskan filsafat dan agama. Dia dikenal sebagai “filosof Arab” atau “filosof Islam”. Dan menjadiTokoh “objektivisme Arab Pertama” tentang masalah ketuhanan (al-Rububiyah), terutama karena pendapat Aristoteles dan Plotinus yang menafsirkan pendapat Aristoteles soal konsep Tuhan.

Karya-karya al-kindi berjumlah 270 buah,kebanyakan di antara berupa  risalah-risalah pendek  dan banyak diantara sudah tidak ditemukan  lagi. Melalui karya-karyanya,al-kindi dapat  diketahui sebagi orang yang beilmu  pengetahuan luas dan mendalam. Karya-karyanya diantara antara lain di kelopokan dalam bidang filsafat,logika,ilmu hitung musik ,astronomi ,geometri,astrologi,dialetika ,piskologi , politik,dan metrologi. Karya-karya tersebut banyak yang di terjemahkan kedalam basa-bahasa eropa,sehinga karya-karnya banayak turut mempengaruhi  pemikiran orang-orang eropa pada abad  pertengahan.
Diantara buku- bukunya al-kindi sebagai beikut:
  Fi al-Qawl fi an-Nafs (Pendapat tentang Jiwa);
  Kalam fi an-Nafs (Pembahasan tentang Jiwa);
  Mahiyah an-Nawm wa ar-Ru’ya (Substansi Tidur dan Mimpi);
  Kemudian dibukukan Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyah.
  Fi al-’Aql (Tentang Akal);
  Al-Hilah li Daf’i al-Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan);
  Kemudian diterbitkan Rasa’il Falsafiyah li al-Kindi wa al-Farabi wa Ibn Bajah wa Ibn ‘Arabi;
  Kitâb al-Kindi ilâ al-Mu‘tashim Billah fî al-Falsafah al-Ûlâ;
  Kitâb fî Annahû lâ Tanâlu al-Falsafah Illâ bi al-‘Ilm al-Riyâdhiyyah (Tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika);
  Kitâb al-Falsafah al-Dâkhilah al Masâ’il al-Manthîqiyyah wa al-Muqtashshah wa Mâ Fauqa al-Thabi‘iyah (tentang filsafat yang diperkenalkan, logika, dan metafisika),
Sebenarnya ,tidak ada kepastian tangal kelahiran ,kematian,dan siapa-sia yang pernah menjadi  gurunya.  L. Massignon mengatakan bahwa al-kindi wafat sekitar 246 H (860 M). C. Nalino menduga tahun 260 H(873 M) dan T. J. de Boer menyebut 257 H (870 M).  Adapun musthafa  Abd al-Raziq(matan rector al azhar) mengatakan tahun 252 H (866 M). Dan yaqut al-himawi  menyebutkan  berusia 80 tahun  atau lebih sedikit

b.Hubungang agama dan filsafat

Filsafat bagi al-kindi ialah pengetahuan tentang yang benar. Disinilah terdapat persamaan filsafat dan agama.Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar apa yang baik.demikian halnya filsafat. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal,dan filsafat juga menggunakan akal. Yang benar pertama bagi al-kindi ialah tuhan.dan filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang tuhan. Bahkan al-kindi berani mengatakan bagi orang yang menolak filsafat, telah mengingkari kebenaran, dan menggolongkannya kepada “kafir”, karena orang – orang tersebut telah jauh dari kebenaran, walaupun menganggap dirinya paling benar. Karena keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan: (1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian dan,(3) menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama. Ia juga menselaraskan antara filsafat dan agama yang didasarkan pada tiga alasan: pertama, ilmu agama merupakan bagian dari filsafat. Kedua, wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian. Ketiga, menuntut ilmu, secara logika diperintahkan dalam agama.
Maka dari itu Alkindi  memeringkas dari sumber-sumber lain yang secara keliru, ia menisbahkan pula kepada Aristoteles. Subjek dan susunanya sesuai benar dengan sumber Neopolitik. Pada definisi pertama, Tuhan disebut ”Sebab pertama” mirip dengan ”Agen Pertamanya” Plotinus, suatu ungkapan yang juga digunakan al-Kindi atau dengan istilahnya ”Yang Esa adalah sebab dari segala sebab”. Definisi-definisi berikutnya  dalam Risalah al-Kindi dikemukakan susunanya yang membedakan antara alam atas dan alam bawah. Yang pertama ditandai dengan definisi-definisi akal, alam, dan jiwa, diikuti dengan definisi-definisi yang menandai alam bawah, dimulai dengan definisi badan (jism), penciptaan (ibda’), materi (hayula), bentuk (shurah).

Jadi yang dimasud dalam  filsafatnya adalahMeringkas pendapat Aristoteles dan meski cenderung pada Plato dan Plotinus dalam soal ketuhanan. Meski dipengaruhi filsafat Yunani dan Platonisme modern, dia kuat percaya pada syari’at Islam. Dia berkata: “Sesungguhnya kebenaran wahyu melampaui tingkat hikmah kemanusiaan, sebagaimana para Nabi yang berbicara atas nama Allah dan orang-orang yang membawa panji Ilahi melampaui semua manusia”.
Filsafat dan agama mirip, sama-sama mencari dan mengenal kebenaran, perbedaan keduanydaberi n dia hanya terletak pada cara yang ditempuh masing-masing dalam mewujudkan kebenaran. Filsafat banyak dipandang  sebagai hasil ke sangupan manusia (hunan skll) yang menepati kedudukan yang tertingi, mempunyai martabat yang mtulia,dan diberi difinisi sebagai pngetahuan tetang hakeu maekat segala sesuat menurut batas ke sangupan manusia.


b.Filsafat ketuhahan
Filsafat Ketuhanan al-Kindi merupakan awal lahirnya perbincangan Ketuhanan, namun penafsiran al-Kindi mengenai Tuhan sangat berbeda dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinius. Mengenai hakikat ke-Tuhanan ia mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang Esa, tidak ada sesuatu benda apapun yang menyerupai akan Tuhan, dan Tuhan tidaklah melahirkan ataupun dilahirkan, akan tetapi Tuhan akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati. Dalam al-Qur’an Surat al-Ikhlas ayat 1 s/d 4 sebagai bukti keberadaan Tuhan.

}  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحٌ
”Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Dalam Islam Sang Khalik atau pencipta dan penguasa segalanya di buat sebuah penamaan yakni ”Allah Swt” sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas maka, itulah bukti yang paling kongkrit bahwa Allah swt itu ada dan hidup kekal selamanya, sedangkan manusia adalah Hamba Allah yang diberikan kehidupan hingga akhirnya mati. Bagaimana kita bisa percaya akan adanya Allah Swt, maka dari itu sebagai manusia biasa diberikan akal, hati dan nurani untuk dapat menyakini adanya Allah swt melalui bukti-bukti kekuasaan Allah Swt.
Agar manusia khususnya umat Islam tidak berselisih paham akan keberadaan Allah Swt, tentang keberadaan alam, ataupun keberadaan manusia itu sendiri, maka sebagai seorang filosof, al-Kindi membagi pengetahuan menjadi dua bahagian, yakni: pertama, pengetahuan Ilahi علم الهي (divine science). Pengetahun ini diambil langsung dari yang tercantum dalam al-Qur-an yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Sedangkan dasar dari pengetahuan ini adalah keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi علم إنسانى (human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason).
Argumen-argumen yang dibawa Qur’an lebih meyakinkan daripada argumen-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran yang di bawa falsafat. Mempelajari filsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bahagian dari filsafat, dan umat Islam diwajibkan belajar teologi.
 Kebenaran yang sesungguhnya hanya pada Allah Swt. Apa yang terlintas di akal hingga terjadi dengan sendirinya di luar akal merupakan sebuah hikmah dalam kehidupan yang mesti kita sadari bahwa terkadang suatu pelajaran sudah kita anggap benar namun akhirnya menjadi sebaliknya. Akhirnya semua akan kembali kepada al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an semuanya mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang insan yang mau berpikir. 
Tuhan dalam falsafat al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti ’aniah atau mahiah. Tidak ’aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, kemudian tuhan tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah, karena Tuhan tidak meruapakan genus atau species. Tuhan hanya satu, dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan adalah tunggal, selain dari Tuhan semuanya mempunyai arti banyak.
Agar dapat memahami penafsiran al-Kindi tentang Tuhan, kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis dan Mu’tazilah. Kaum tradisionalis (Ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya) menafsirkan sifat-sifat Allah dengan nama-nama Allah, mereka menerima makna harfiyah al-Qur’an tanpa memberikan penafsiran lebih jauh. Kaum Mu’tazilah yang semasa dengan al-Kindi, secara akal menafsirkan sifat-sifat Allah demi memantapkan sifat Maha Esa-Nya. 

Walaupun al-Kindi sepaham dengan Muktazilah dalam menafikan sifat dari Zat Allah. Akan tetapi, ketika Muktazilah menyatakan bahwa Tuhan itu mengetahui dengan Ilmu-Nya dan Ilmu-Nya adalah Zat-Nya (’Alim bi’ilm wa ’ilmuh zatuh) berkuasa dengan kekuasaan-Nya dan kekuasaa-Nya adalah Zat-Nya (qadir bi qudratih wa qudratuh zaituh) al-Kindi tidak sepaham dengan pandangan ini. Sesuai dengan paham yang ada dalam Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak Pertama sebagai pendapat Aristoteles.

Jadi filsat ketuhanan al-kindi dapat di ringkas sebagai berikut
}  Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujudnya tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya.
}  Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah atau mahiah.
}  Tuhan tidak tersusun dari materi dan bentuk (الهيولى والصورة  ).
}   
}  Tuhaan tidak memiliki genus atau species.
}  Tuhan adalah al-haqqul awal (الحق الاول ) dan al-haq aal-wahid (الحق الواحد). Ia semata-mata satu. Hanya Ia-lah satu, selain dari Tuhan mengandung arti banyak.







C.  Kesimpulann
Al-Kindi, adalah seorang  filosof yang berusaha mempertemukan agama dengan filsafat. Ia berupaya membuktikan bahwa berfilsafat tidak dilarang. Meski Al-Kindi terpengaruh pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles dan memperlihatkan corak pitagorasme, namun dalam beberapa hal Al-Kindi tidak sependapat dengan para filosof Yunani mengenai hal-hal yang dirasakakn bertentangan dengan ajaran islam yang diyakininya.Sebagai filosof islam pertama yang menyelaraskan agama dengan filsafat, ia telah melicinkan jalan bagi filosof sesudahnya, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.







Refensi :

Nasution, Hasyimsyah, filsafat islam. Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999.
George N. Atiyeh, Al-Kindi Tokoh Filosif Muslim, Islamic Research Institute, 1966.
Sayyed Hossein Nasr. Oliver Leaman, Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam, Jumada Al-tsaniyah (Mizan), 1424 H/Juli 2003.

FILSAFAT ISLAM ( Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi


Abu Bakar Al-Razi
  1. Sejarah hidupnya
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya Al-Razi. Di barat dikenal Rhazes. Ia lahir Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (865M). dia hidup pada pemerintahan Dinasti Saman (204-395 H). Pada masa mudanya, ia menjadi tukang intan, penukar uang, dan sebagai pemusik kecapi. Al-Razi adalah seorang yang ulet dalam bekerja dan belajar, karenanya tidak heran kalau ia tampak menonjol dibanding rekan-rekan semasanya, bahkan ia sangat tenar. Di kota Rayy ini dia belajar Kedokteran kepada Al ibn Rabban Al-Thabari (192-240 H/808-855 M), belajar filsafat kepada Al-Bakhi, seorang yang senang mengembara, menguasai filsafat, dan ilmu-ilmu kuno. Ia juga belajar matematika, astronomi, sastra, dan kimia.
Pada masa Mansyur Ibn  Ishaq ibn Ahmad Ibn Asad sebagai gubernur Rayy, Al-Razy diserahin kepercayaan memimpin Rumah Sakit selama 6 tahun (290-296 H/902-908 M). pada masa ini juga Al-Razi menulis buku Al- Thib Al-Mansyuri yang dipersembahkan kepada Mansyur ibn Ishaq ibn Ahmad. Dari Rayy kemudian Al-Razi pergi ke Baghdad. Dan atas permintaan khalifah Al-Muktafi (289-295 H/901-908), yang berkuasa pada waktu itu ia memimpin Rumah Sakit di Baghdad. Untuk menentukan lokasi pendirian bangunan Rumah Sakit di Baghdad ia meletakan potongan-potongan daging diberbagai tempat kemudian memilih tempat dimana daging itu yang paling kurang  pembusukannya. Dalam menjalankan profesi kedokteran, ia dikenal pemurah, sayang kepada pasien-pasiennya, Dermawan kepada orang-orang miskin dengan memberikan pengobatan gratis. Hitti mengatakan bahwa Al-Razi adalah seorang Dokter yang paling besar dan paling orisinal dari seluruh Dokter Muslim, dan juga seorang penulis yang paling produktif kemasyuran Al-Razi sebagai seorang Dokter tidak saja di dunia timur, tapi juga di dunia barat ia kadang-kadang di juluki the erebic galent. Setelah khalifah al muktafi wafat, razi kembali ke Ray, dan meninggal dunia pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M). Setelah menderita sakit katarak yang dia tolak untuk diobati dengan pertimbangan, sudah cukup banyak dunia yang pernah dilihatnya, dan tidak ingin melihatnya lagi.
Diberitakan, Al Razi banyak menghabiskan waktunya bersama murid dan paseinnya, disamping belajar dan menulis, konon keseriusanya dalam belajrlah salah stu penyebab katarak yang dieeritanya. Al Razi dekenalseorang pemberani dalam menetang beberapa kepercayaan Islam yang fundamental, atas dasar sikap yang dipilihnya sebegai seorang rasionalis dan pendukung pandangan kaum naturalis kuno, sehingga ia banyak mendapat kecaman dan caci maki dari pengarang kemudian.
Lawan-lawan Al Razi yang patut dicatat adalah ( Abu Hatim Al Razi (322 H atau 933 M), lawan paling penting mengingat kepiawaiannya  berdakwah dalam aliran islamiyah. Perbedaan pendapatnya dengan Al Razi terutama tentang agama dan kenabian ia tulis dalam buku alam al nubuwwah. Abu Hatim, Al Razi lebih mengutamakan filsafat dari agama yang di anggapnya sebagai khurafat dfan mebawa kepada kebodohan dan taklid. (2) Abu Qasim Al Balkhi, pimpinan kaum Mutaz’lah Baghdad. Perbedaanya degan Al Razi pertama mengenai waktu yang terdapat dalam buku al ilm al ilahi, dan (3) Ibn Tamar yang menolak tulisan Al Razi dalam al thib dan al ruhani.
  1. Hubungan Akal dan Wahyu
Bahwa akal diberi tempat yang istimewa sebagai sumber dan perangkat utama untuk memperoleh pengetahuan. Akal mengendalikan fungsi-fungsi rasa, reaksi gerak,  kehendak, khayalan, fikiran serta ingatan. Dengan akalnya manusia mampu memahami berbagai  gejala alam, membongkar berbagai misteri serta memahami manusia itu sendiri. Karena itu Al-Razi memposisikan akal sebagai penguasa, pengendali, dan tempat bersandar dalam setiap pengambilan keputusan. Sedemikian tinggi kedudukan akal, maka menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk menempatkannya sebagai penentu setiap langkah kehidupan.
Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya kepada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu dan perlunya nabi-nabi. Dia berkeyakinan bahwa akal manusia tetap kuat untuk mengetahui yang baik serta apa yang buruk, untuk tahu pada Tuhan dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Manusia, dalam pendapatnya, pada dasarnya mempunyai daya berfikir yang sama besarnya, dan perbedaan timbul karena berlainan Pendidikan dan berlainan suasana perkembangannya. Nabi-nabi, menurut pendapatnya membawa kehancuran bagi manusia, dengan ajaran-ajaran mereka yang saling bertentangan. Bahkan ajaran-ajaran itu menimbulkan perasaan benci membenci diantara umat manusia yang terkadang meningkat menjadi peperangan agama. Dan karena semua agama kekuasaan yang ada pada pemuka-pemuka agama, dank arena tertarik pada upacara-upacara yang mempengaruhi jiwa rakyat yang sederhana dalam pemikiran qur’an baik dalam bahasa, gaya maupun dalam isi tidak merupakan mukjizat. Al-Razi lebih mementingkan buku-buku falsafat dan ilmu pengetahuan dari pada buku-buku agama. Tetapi dia menentang agama pada umumnya, ia bukanlah seorang Atheis, malahan seorang monotheis yang percaya adanya Tuhan, sebagai penyusun dan pengatur alam ini.
Dalam falsafatnya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dia dekat dengan falsafat Pythagoras, yang memandang kesenangan manusia sebenarnya ialah kembali kepada Tuhan dengan meninggalkan alam materi ini. Untuk kembali ke Tuhan roh harus terlebih dahulu disucikan dan yang dapat menyucikan roh adalah ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa hal. Bagi Al-Razi sebagaimana dilihat, jalan menyucikan roh adalah falsafat. Dalam paham Pythagoras ada transmigration of souls dan ini dalam paham Al-Razi tidak jelas. Al-Razi dengan demikian dekat menyerupai zahid dalam hal hidup kebendaan. Tapi ia menganjurkan moderasi, jangan terlalu bersifat zahid tetapi pula jangan terlalu mencari kesenangan. Manusia harus menjauhi kesenangan yang dapat diperoleh hanya dengan menyakiti orang lain atau yang bertentangan dengan rasio. Tetapi sebaliknya manusia jangan pula sampai tidak makan atau berpakaian, tetapi makan dan berpakaian sekadar untuk memelihara diri.
Al-Razi adalh filosof yang berani mengeluarkan pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan paham yang dianut umat islam, yaitu:
1.         Tidak percaya pada wahyu.
2.         Qur’an tidak mukjizat.
3.         Tidak percaya kepada nabi-nabi.
4.         Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.
  1. Filsafat Lima yang Kekal
Pemikiran  Ar-Razi tentang filsafat lima yang kekal dijadikan dasar dalam menetapkan wujud alam. Artinya alam itu baru akan terwujud bila kelima kekal tersebut ada. Adapun kelima kekal tersebut adalah: Tuhan, Jiwa Universal, Materi pertama, Ruang absolut, Masa absolut. Menurut Al-Razi dua dari lima yang kekal itu hidup dan aktif, yaitu Tuhan dan Jiwa/Roh Universal. Yang satu tidak hidup dan pasif, yaitu materi. Dua lainnya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif, yaitu ruang dan masa absolut.
  1. Tuhan
Menurut Al-Razi Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Kekuasaan-Nya tidak ada yang menyamain. Ia mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia. Sebab pengetahuan manusia dibatasi pengalaman. Sedangkan pengetahuan Tuhan tidak dibatasi oleh pengalaman. Tuhan Tahu tentang sifat jiwa yang cenderung bersatu dengan benda dan mencari kenikmatan material. Setelah jiwa bergabung dengan tubuh Tuhan kemudian mengatur hubungan tersebut kedalam jiwa. Karena memiliki akal jiwa menjadi sadar bahwa selama masih bergabung dengan tubuh ia akan tetap menderita. Dengan akal, jiwa tahu tempat asalnya. Akal pulalah yang menginsyafkan jiwa bahwa kebahagian tertinggi hanya akan diperoleh setelah jiwa mampu melepaskan diri dari tubuh.
  1. Jiwa Universal
Disaat jiwa mendekat pada tubuh, tubuh meronta, melihat nasib jiwa yang tragis ini kemudian Tuhan menolongnya dengan jalan membentuk alam ini dengan susunan yang kuat sehingga roh dapat memperoleh kesenangan material didalamnya. Setelah itu Tuhan menciptakan manusia dari substansi ketuhanan-Nya kemudian diciptakan akal. Fungsi akal adalah menyadarkan manusia bahwa dunia yang dihadapinya sekarang ini bukanlah dunia yang sesungguhnya. Menurut Al-Razi dunia yang sesungguhnya itu dapat dicapai dengan filsafat. Oleh karena itu siapa yang belajar filsafat akan mengerti dunia yang sebenarnya serta memperoleh pengetahuan selamanya akan tetap berada  di dunia sebelum disadarkan oleh filsafat.
  1. Materi pertama
Benda pertama  terdiri dari atom-atom. Masing-masing atom tidak memiliki volume. Tanpa adanya penggabungan dari atom-atom tadi tidak akan ada sesuatu yang terwujud. Atom-atom mempunyai sifat sendiri bila padat ia akan menjadi tanah, kalau kurang padat akan menjadi air. Bila lebih jarang akan menjadi udara dan akhirnya kalau paling jarang akan menjadi api. Sebenarnya teori Al-Razi ini tentang benda merupakan penggabungan antara teori Demokritos dengan teori Empedokles. Selanjutnya Al-Razi mengatakan bahwa bila tidak ada di dunia ini sesuatu yang berasal kecuali dari benda lain, dan sesuatu lain adalah benda. Jadi benda itu abadi, pada mulanya ia tidak membentuk tetapi terpancar dimana-mana.
  1. Ruang Absolut
Setiap wujud memerlukan ruang sebagai tempat berwujud. Ruang merupakan tempat bagi setiap yang wujud maupun yang bukan wujud. Karena materi yang menempati  ruang bersifat kekal, maka ruang tempat materi berada juga kekal. Menurut Al Razi ruang ada dua macam yatiu ruang absolute dan ruang relatif. Ruang absolut adalah ruang yang ditempati oleh seluruh materi, baik sebelum atau sesudah diciptakan, bahkan setelah hancurnya alam menjadi materi-materi yang lain. Keberadaan ruang ini tidak tergantung adanya benda-benda angkasa. Tanpa benda apapun ruang tetap ada. Sedangkan ruang relative adalah  ruang yang terbatas, yang adanya tergantung pada wujud yang menempati. Bila tidak ada yang menempati, maka ruang itu tidak ada.
  1. Masa Absolut
Waktupun menurutnya dibagi menjadi dua macam yaitu : Waktu Absolute dan Waktu yang terbatas. Waktu Absolute ialah perputaran waktu, sifatnya begerak dan kekal. Sedangkan waktu yang terbatas adalah waktu yang di ukur berdasarkan dan pergeraka bumi, matahari, dan bintang-bintang.
Harus dikemukakan segera bahwa Al Razi tidak mengajukan pembuktian apapun tentang kekekalan pencipta maupun jiwa. Cukup jelas ia mempercayai bahwa dunia diciptakan dalam waktu yang bersifat sementara, berbeda dengan plato yang mempunyai dunia diciptakan tetapti bersifat abadi. Oleh karena itu, keabadiaan jiwa dan pencipta harus di nyatakan telah di ajukan oleh Al Razi, sama dengan plato, sebagai sebuah pernyataan akasiomatik. Tidak saja keabadian jiwa, baik a parte ante maupun a parte post, tetapi juga pernah filsafat sebagai satu-satunya jalan kearah penyucian jiwa dan pelpasanya dari belengu tubuh, mencerminkan pengaruh platonik-pithagoreyan yang cukup kentara, yang betentangan dengan konsep islam tentang wahyu dan konsep kenabian. Sebenarnya karena keinginanya untuk menyesuaika diri sepenuhya dengan remis rasionalistiknya, Al Razi telah menolak secara terang-terangan  konsep wahyu dan peranan para nabi sebagai mediator antara tuhan dan manusia. Menurut kenabian itu tidak berguna karena cahaya akal yang dberikan tuhan cukup memadai untuk mengetahui kebenaran, karena ia telah menjadi penyebaab dari begitu banyak pertumpaan darah dan peperangan antara sutu bangsa (mungkin, orang-orang arab) yang meyakini dirinya dianugrahi wahyu ilahi dan yang lain sebagai orang-orang yang kurang beruntung.