Minggu, 02 November 2014

SEJARAH BANTEN (BANTEN LAMA)


Nama Banten mulai terdengar menjelang abad XII. Setidaknya pada abad XII-XV Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Sunda. Menurut Ten Dam di daerah sekitar ibu kota kerajaan Sunda yakni Pajajaran, yang lokasinya sekitar Bogor sekarang, sudah ada dua jalur jalan darat penting yang menghubungkan daerah pantai utara dengan ibukota. Salah satu dan jalur darat itu ialah jalan dan ibukota Pajajaran menuju Jasinga, kemudian membelok ke utara Rangkasbitung, dan berakhir di Banten Girang, yang terletak kira-kira ± 3 km di sebelah selatan kota Serang atau sekitar ±13 km dan Banten Lama.
Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten tahun 1513, Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Sunda Kelapa di kerajaan Sunda. Hubungan dagang telah banyak dilakukan antara Banten dengan Sumatera dan banyak perahu yang berlabuh di Banten. Pada waktu itu Banten sudah merupakan pelabuhan pengekspor beras, bahan makanan, dan lada. Sedangkan sekitar tahun 1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup berarti, di mana kerajaan Sunda Kelapa sudah mengekspor 1000 bahar lada pertahun.
Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah ini yang semula berkedudukan di Banten Girang, dipindahkan ke keraton Surosowan di Banten Lama dekat pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir Sumatera melalui selat Sunda dan Samudera Indonesia. Situasi ini berkaitan dengan kondisi politik di Asia Tenggara masa itu di mana Malaka sudah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang mengalihkan jalur dagangnya melalui Selat Sunda.
Berdirinya keraton Surosowan sebagai ibu kota kerajaan Banten adalah atas petunjuk dan perintah Sunan Gunung Jati kepada putranya Hasanuddin yang kemudian menjadi raja Banten pertama. Kedatangan penguasa Islam ke daerah Banten terjadi kira-kira 1524-1525 pada saat mana daerah Banten masih berada dalam kekuasaan kerajaan Sunda dengan penguasanya bernama Rabu Pucuk Umum. Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi penguasa pertama di Banten tidak mentasbihkan diri menjadi raja pertama tetapi menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Maulana Hasanuddin. Sultan Hasanuddin dinobatkan menjadi raja Banten pada tahun 1552. Selain membangun keraton Sunosowan, Hasanuddin juga membangun mesjid di sekitar Banten Lama sekarang.
Hasanuddin digantikan oleh Maulana Yusuf sebagai raja Banten yang kedua (1570-15 80). Ia telah memperluas wilayah kekuasaan kerajaan Banten sampai jauh ke pedalaman yang semula masih dikuasai kerajaan Sunda dan berhasil menduduki ibukota keraja.an di Pakuwan. Maulana Yusuf memperluas bangunan Mesjid Agung dengan membuat serambi dan juga telah membangun sebuah mesjid lain di Kasunyatan (selatan Banten Lama). Waktu Maulana Yusuf wafat yang berhak naik tahta ialah Pangeran Muhammad. Karena waktu itu pangeran Muhammad masih kecil maka yang bertindak sebagai wali raja ialah Pangeran Aria Japara.

Salah satu peristiwa penting dan masa pemerintahan Pangeran Muhammad ialah kedatangan - kapal-kapal Belanda pada tahun 1596 yang berlabuh dipelabuhan Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Dan merekalah kita mendapat catatan-catatan tertulis yang sangat berharga tentang Banten. Dan catatan Jan Jansz Kaerel tertanggal 6 Agustus 1596 disebutkan bahwa kapal-kapal asing yang benlabuh di pelabuhan Banten harus mendapat ijin Shyahbandar. Untuk masuk ke kota Banten dan pelabuhan terlebih dahulu harus melalui “‘tolhuis” atau kios pungut pajak.
Dan gambar kota Banten tahun 1596 dapat dilihat bahwa dekat pasarjuga terdapat mesjid. Kota Banten sebagai ibukota kerajaan sudah mempunyai pagar tembok dan batu bata, yang berfungsi sebagai pagar tembok keliling kota. Tentang pasar sebagai pusat perekonomian dapat dibaca catatan dan Willem Lodewiycksz yang menggambarkan keadaan pasar Banten.
Barang perdagangan yang ada di pasar Banten terdiri dan barang-barang dan dalam dan luar negeri seperti sutera, beludru, porselin, sedangkan barang-barang dan daerah selempat ad&ah barang-barang untuk keperluan sehari-hari seperti buah-buahan, sayuran, cabe, gula, madu, gambir, bambu, kenis, lombak dan lain-lain.
Untuk jual beli di pasar atau dalam transaksi perdagangan di Banten sudah digunakan mata uang sebagai alat pembayaran. Ketika Tome Pires (1513) mengunjungi beberapa pelabuhan di Jawa mata uang yang dipakai sebagai alat tukar adalah mata uang Cina yaitu Casha (Caxa). Namun dapat juga disebutkan bahwa mata uang lersebut pada abad XVI merupakan alat tukar yang utama dalam perdagangan di Banten. Hal terseout telah membuktikan bahwa Banten pada waktu itu telah mendapat perhatian dan pedagang-pedagang internasional atau asing.
Mulai abad XVII  kondisi social politik Banten ditandai  adanya pengaruh Belanda dalam kehidupan tata pemenintahan dan perdagangan dikalangan kerajaan, sehinga abad ini merupakan puncak kemaj uan kerajaan.
Catatan mengenai kota Banten pada abad XVII dapat kita peroleh dan berbagai sumber. Di sebut bahwa pada tahun 1664 Banten sudah dikelilingi oleh tembok kuat yang terbual dan bata dan bermeniam, Pada masa pemenintahan Sultan Abu Nash Abdul Qahhar dihenti benteng sekeliling. Berdasarkan catatan Belanda, benteng ini dibuat oleh Hendrik Lucaszoon Carded. Di mana iajuga membangun menara dan gedung tiyamah dipelataran halaman Mesjid Agung.
Pada abad XVII, Banten telah mendapat kemajuan dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Banyak orang asing terutama orang Asia, melakukan hubungan dagang dengan kerajaan Banten. Orang Gujarat merupakan penghuhung antara pedagang asing dengan penguasa kerajaan. Pada waktu itu di Banten terdapat barang-barang mewah yang diperdagangkan hal tersebut menandakan bahwa tingkat konsumsi dan masyarakat Banten cukup tinggi. Setiap tahunnya banyak pedagang-pedagang Cina yang berlabuh di Banten. Kebanyakan dan mereka menukankan barang dagangan meneka dengan lada. Hal ini telah membuktikan bahwa Banten telah ramai dikunjungi orang asing.
Pada abad 18 rakyat Banten tidak mau bekerja sama dengan Belanda sehingga banyak pemimpin-pemimpin di Banten bangkit melawan Belanda. Terutama ketika Banten diperintah oleh Sultan Fathi Muhammad Zainul Arifin banyak sekali terjadi penlawanan. Hal tersebut sebagai pengaruh kebijaksanaan Belanda yang sangat menekan Rakyat Banten, misalnya seperti kerja paksa, dan lain-lain. Akibat dan ini, maka pada tahun 1735 Sultan Fathi Muhamammad Zainul Arifin ditangkap dan dibuang ke Ambon. Setelah ini kerajaan dipenntah oleh Sultan Wasi Zainul Alimin yang hanya memenintah selama satu tahun dan kemudian digantikan oleh Sultan Muhammad Arif Zainul Asikin yang memerintah sampai tahun 1773. Selanjutnya diteruskan oleh Sultan lshak Zainul Muttaqin, Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syafiuddin penduduk dipaksa bekerja utuk membangun sebuah pelabuhan besar di Labuhan. Proyek ini banyak memakan korban jiwa. Sultan Muhammad Syariuddin merasa prihatin atas keadian tersebut, ia tidak ingin mengorbankan rakyatnya dan kemudian langsung menyuruh menghentikan proyek tersebut. Keadaan yang demikian mengakibatkan Daendels menjadi marah dan memerintahkan Du Puy untuk memperingatkan Sultan. Karena tindakan Du Puy yang dianggap tdak sopan terhadap Sultan, maka diapun dibunuh oleh masyarakat di depan keraton. Akibatnya, sebagai tindakan pembalasan, kemudian Sultan ditangkap dan dibuang ke Ambon.
Setelah itu wilayah Banten diduduki oleh Belanda, keraton Surosowan dihancurkan, lantainya dibongkar dan dibawa ke Serang untuk membangun kantor perwakilan Belanda. Walaupun Sultan Muhammad Rafiuddin masih memerintah, namun kekuasaannya sudah tidak berarti apa-apa lagi. Waktu itu pusat kerajaan telah dipindahkan ke keraton Kaibon. Pada tahun  1816, datang utusan dari Belanda di bawah pimpinan Gubernur Van Der Capellen dan mengambil alih kekuasaan dan tangan Sultan Muhammad Rafiudin. Oleh Belanda wilayah kekuasaan kerajaan dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Serang, Lebak dan Cairingin. Maka dengan ini berakhirlah masa kesultanan di Banten.