Senin, 25 Mei 2015

Lomba Cipta Puisi Tema “Cahaya Ramadhan” Bersama Zham Sastera (DL 27 Juni 2015)

EVENT PERDANA LOMBA PUISI ZHAM SASTERA



Lomba Cipta Puisi Tema “Cahaya Ramadhan” Bersama Zham Sastera (DL 27 Juni 2015)
“Setetes Embun di Pagi hari
Jatuh di atas semerbak  Bunga Melati
Ramadhan selangkah lagi hampiri
Inilah waktunya untuk perbaiki diri
Di Bulan yang suci penuh arti”.
Punya moment atau kenangan yang membekas di bulan suci, bulan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan? Tuangkan rasa manis dan pengalamanya dalam sajak indah berbalut imaji.
Syarat dan ketentuan :
1. Bergabung di grup Sastrawan Indonesia (https://web.facebook.com/groups/1428717460782334/ )
2. Berteman dengan Sastrawan kita, Zham Sastera (https://web.facebook.com/zham.sastera.7) dan PJ : Zham Al Muzzammil (https://web.facebook.com/zhamsastra)
3. Membagikan info event dan tag teman FB minimal 20 orang.
4. Naskah berupa kiriman maksimal 2 buah puisi dengan tema “CAHAYA RAMADHAN”. 
5. Melakukan transaksi pembayaran pendaftaran sebesar Rp. 20.000,- Ke No. Rek.
    BRI : 1511-01-006143-50-5 AN: Jamiludin
6. Naskah merupakan karya asli, bukan plagiasi, belum pernah dipublikasikan di media cetak dan media sosial, serta tidak sedang diikutkan lomba yang lain.
7. Tidak mengandung unsur SARA, kekerasan dan pornografi.
8. Naskah diketik rapi menggunakan Ms. Word 2003/2007/2010, masing-masing puisi 1 halaman A4 (belum termasuk biodata), font Times New Roman size 12, margin normal, 1.5 spasi.
9. Di akhir naskah, tuliskan biodata narasimu maksimal 50 kata, meliputi nama, tempat tanggal lahir, alamat email, No. HP, serta prestasimu dalam dunia menulis / karya yang sudah pernah diterbitkan (jika ada).
10. Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (doc/docx) ke alamat email: zhamsastera@yahoo.com
Cc: zhamuinjkt@yahoo.com
11. Format pengiriman naskah untuk judul file (nama file pada saat naskah disave) dan subjek email saat naskah dikirim :
CRZS_Judul Puisi_Nama Penulis. 
(Contoh: CRZS_Ramadhan Dikala Senja_Zham Sastera) Jangan menyepelekan masalah subyek dan nama file karena untuk mempermudah PJ mendata.
12. Peserta hanya boleh mengirim satu atau dua naskah puisi terbaiknya.
13. Update peserta akan di update setiap dua hari sekali.
14. Pengumuman kontributor akan dipublikasikan secepatnya setelah deadline.
15. Kontak Informasi  : 089630888472 ( ZHAM )

Reward :
1. JUARA I : Voucer Pulsa sebesar Rp. 100.000,- + Sertifikat +  1 Buah Novel Bukan Cinderela karya Ifa Avianty  + Karya di bukukan bersama 50 Kontributor terpilih
2. JUARA II : Voucer Pulsa sebesar Rp. 50.000,- + Sertifikat + Karya di bukukan bersama 50 Kontributor terpilih
3. JUARA III : Voucer Pulsa sebesar Rp. 25.000,- + Sertifikat + Karya di bukukan bersama 50 Kontributor terpilih
4. 50 Kontributor terbaik karyanya akan di bukukan dalam bentuk Antologi Puisi “Cahaya Ramadhan”.
Tunggu apalagi,segera kirim karya terbaikmu!
NB :
– Peserta yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan akan didiskualifikasi.
– Update peserta bisa dilihat di grup Sastrawan Indonesia.
– Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Selamat berkarya
Salam Literasi!!!
PJ Event
Zham Sastera



Minggu, 24 Mei 2015

MEMAKNAI MUSIBAH - Shaifurrokhman Mahfudz

Memaknai Musibah
Shaifurrokhman Mahfudz*)

Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud Ra berjalan, tiba-tiba terputus tali sandalnya. Dengan spontan beliau berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dikatakan kepada beliau, “Hanya karena seperti ini engkau mengucapkan kalimat itu?” Beliau menjawab, “Ini musibah.”
Lepasnya tali sandal memang bukan persoalan besar yang layak disebut musibah. Tetapi Ibnu Mas’ud, menunjukkan kepada kita bahwa sekecil apapun peristiwa hidup yang dialami, jangan menganggap tidak ada keterlibatan Allah di dalamnya. Musibah bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk menimpa orang-orang yang saleh dan mulia.
Hidup ini, hakikatnya keniscayaan adanya cobaan dan musibah. “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (Qs. al-Baqarah: 155-156).
‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Athabahwa orang-orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Ayat ini mengajarkan kita bahwa kesempurnaan nikmat dan kemuliaan derajat seseorang di sisi Allah tidak menjadi penghalang turunnya musibah dunia kepadanya. Kita sering melihat, seseorang yang tekun menjalankan ibadah dan tekun berikhtiar, hidupnya seringkali didera musibah. Padahal di sisi lain, orang yang bergelimang dosa dan maksiat justru nampak lebih makmur, sejahtera, dan jarang mendapat musibah. Ketika tertimpa musibah, sebagian kita merasa sangat terbebani, marah dan tidak sabar. Lalu, kita pun protes, dan menggugat Allah; “Tuhan tidak adil kepada kita”.
Kemampuan akal dan pemahaman kita cenderung memahami keumuman sebab dan akibat. Itulah kelemahan sisi manusiawi kita. Akan tetapi, sebenarnya, Allah  menanamkan kepada kita akal yang mampu memikirkan apa yang tersembunyi dari musibah itu sehingga ia mampu memetik hikmah yang samar dan sebab yang tersembunyi. Semakin banyak merenungkan hikmah ilahiah, ia akan mampu memahami perkara yang tidak mampu dipahami oleh yang lainnya tentang agungnya kelembutan Allah.
Sebenarnya, ujian dan musibah yang diberikan Allah itu “sedikit”. Kadarnya sedikit jika dibandingkan dengan potensi yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai manusia. Ujian Allah itu sedikit, sehingga setiap yang diuji akan mampu memikulnya jika ia menggunakan potensi-potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Hal ini tidak ubahnya seperti imtihan (ujian) yang dilakukan anak-anak didik kita. Soal-soal ujian disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing. Semakin tinggi kelas dan jenjang pendidikan, semakin berat soal ujian. Maka, setiap yang diuji akan lulus jika ia  mempersiapkan diri dengan baik serta mengikuti tuntunan yang diajarkan.
Apa yang telah Allah ajarkan kepada kita? Ternyata Allah sudah mengajarkan kita shalat dan sabar. Kedua hal inilah yang harus diamalkan sebelum dan saat datangnya ujian Allah. Karena itu, Hudzaifah Ibn al-Yaman mengatakan “apabila Rasulullah Saw dihadapkan pada satu kesulitan dan ujian, beliau melaksanakan shalat”. Allah juga telah berpesan; “sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.
Bagi orang yang sabar, musibah yang diterimanya memiliki dampak yang lebih besar daripada orang yang marah dan berkeluh kesah, meskipun musibahnya sama. Pada sebagian manusia, musibah menjadi rahmat baginya sehingga iadapat “kembali” kepada Allah. Namun, tidak sedikit diantara manusia yang gagal dalam menyikapi musibah. Musibah itu ada yang tampak dan ada yang tersembunyi. Demikian pula dari sisi jenis dan kadarnya. Sebagian manusia diuji dengan musibah yang tidak tampak, namun sejatinya lebih besar jika dibandingkan dengan musibah yang tampak pada orang lain. Allah mengkhususkan dengan musibah yang demikian, karena hal itu lebih sesuai untuk menjadi penghapus dosanya.
Manusia harus terus berjuang, karena hidup adalah pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, persaingan antara kebaikan dan keburukan. Tentu saja dalam pergulatan dan pertarungan itu pasti ada korban; pihak yang benar atau yang salah.Korban itu bisa harta, jiwa, kedudukan dan lain-lain. Tetapi korban itu hakikatnya sedikit, bahkan itulah yang menjadi bahan bakar memperlancar jalannya kehidupan serta mempercepat pencapaian tujuan.
Maka, apapun ujiannya, itu baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya. Takut menghadapi ujian adalah pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian Ilahi. Muslim yang baik akan merespons setiap sesuatu yang ditakuti dengan membentengi diri dari gangguannya. Biarkan dia datang kapan saja, tetapi ketika itu kita telah siap menjawab dan menghadapinya. Orang yang siap menghadapi ujian inilah yang layak mendapat keberkahan. Keberkahan itu sempurna, banyak dan beraneka ragam. Ia bisa berupa limpahan pengampunan, pujian, dan ketenteraman hati. Semua keberkahan itu bersumber dari Tuhan Yang Memelihara dan Mendidik.Keberkahan itu dilimpahkan sesuai dengan pendidikan dan pemeliharaan-Nya kepada kita.

*) Sekjen Andalusia Islamic Center

Selasa, 19 Mei 2015

PENGERTIAN MAJAS

PENGERTIAN MAJAS
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yg membuat cerita itu semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis [1].

Daftar isi
1 Jenis-jenis Majas
1.1 Majas perbandingan
1.2 Majas sindiran
1.3 Majas penegasan
1.4 Majas pertentangan
2 Referensi
3 Catatan kaki
Jenis-jenis Majas
Majas perbandingan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas perbandingan
Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
Contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
Contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
Contoh: Dengan telaten, Ibu mengendus setiap mangga dalam keranjang dan memilih yang berbau manis. (Bau: indera penciuman, Manis: indera pengecapan)

Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Contoh: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)
Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
Contoh: Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima.

Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.
Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.
Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.
Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
Contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh: Indonesia bertanding voli melawan Thailand.
Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
Contoh: Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
Contoh: Apa kabar, Roni? (Padahal, ia sedang bicara kepada bapaknya sendiri)

Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
Contoh: Kucing itu berpikir keras, bagaimana cara terbaik untuk menyantap tikus di depannya.
Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
Contoh: Kita bermain ke Ina. (Dalam hal ini, 'Ina' menjadi perwakilan dari lokasi 'rumah milik Ina'.)
Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
Majas sindiran
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas sindiran
Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
Contoh : Kamu tidak dapat mengerjakan soal yang semudah ini? Dasar otak udang isi kepalamu!

Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas penegasan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas penegasan
Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh: Saya naik tangga ke atas.
Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
Contoh : Dia pasti akan datang, dan aku yakin, dia pasti akan datang ke sini.

Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
Contoh: Dengar daku. Dadaku disapu.

Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
Contoh: Kutulis surat ini kala hujan gerimis. (Salah satu kutipan puisi W.S. Rendra)

Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
Contoh: Baik rakyat kecil, kalangan menengah, maupun kalangan atas berbondong-bondong menuju ke TPS untuk memenuhi hak suara mereka.

Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
Contoh: Dikejar oleh Anna kupu-kupu itu dengan begitu gembira.

Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Contoh: Perlu saya ingatkan, Kakek saya itu peramah dan juga pemarah.

Majas pertentangan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas pertentangan
Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
Referensi :
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2007. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Tera, Yogyakarta.
Catatan kaki :

^ Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. 2002.

Kamis, 07 Mei 2015

MAKALAH SUSILA BUDHI DARMA (Aliran Kepercayaan)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dipulau jawa terdapat banyak kebudayaan mulai dari bahasa jawa yang beragam, adat-istiadat yang berbeda, sampai pada aliran-aliran kepercayaan yang dianut masyarakat jawa pada tempo dulu hingga sekarang yang masih dianut oleh masyarakat modern saat ini. Pada daerah-daerah tertentu masih membudidayakan aliran-aliran tersebut karena dianggap kepercayaan tersebut lebih bisa menyatukan dengan Tuhan mereka.
Diantara aliran-aliran kepercayaan salah satunya yaitu Subud aliran ini dipercayai sebagai langkah untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Aliran Kepercayaan Subud?
2. Siapakah Tokoh Pembawanya?
3. Bagaimana sistem ajaran-ajaran yang di praktekanya?

C. Tujuan Pembahasan
     Mengetahui dan mempelajari aliran kepercayaan Susila Budi Darma





BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN SUSILA BUDI DARMA
1. Tinjauan Sejarah Kelahiran Organisasi
Pendiri dari Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud ialah Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang pada tanggal 23 Juni 1987 telah wafat di Jakarta dalam usia 86 tahun. Latihan Kejiwaan Subud diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dalam suatu pengalaman gaib pada suatu malam di tahun 1925, dan delapan tahun kemudian, pada tahun 1933 Bapak Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. [1]
Subud mulai menyebar ke luar negeri sejak tahun 1954, dibawa oleh seorang lnggris yang beragama Islam, Husein Rofe, Bapak Muhammad Subuh memulai lawatan ke luar negerinya di tahun 1957, dan semasa hidupnya beliau telah berpuluh-puluh kali berkunjung ke berbagai negara di dunia. Subud pada waktu ini telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia.
Subud bukan semacam agama dan juga bukan bersifat peiajaran, tetapi adalah sifat Latihan Kejiwaan yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan ke arah kenyataan kejiwaan, terlepas daripada pengaruh nafsu kehendak dan akal pikiran. [2]
Arti kata-kata Susila Budhi Dharma yang disingkat menjadi SUBUD ialah : SUSILA artinya : budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa; BUDHI artinya: daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia; DHARMA artinya : penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


2. Dasar Pengertian
a. Konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa
Pemahaman dan pengertian Subud tentang Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bahwa Tuhan dengan kekuasaanNya mencakup seluruh ciptaan-Nya baik yang terpandang maupun yang tidak tampak.

b. Konsepsi tentang Manusia
Manusia adalah makhluk Tuhan yang keberadaannya dikehendaki oleh-Nya dan diliputi oleh kekuasaan-Nya. Kekuasaan Tuhan sudah berada dalam dirinya yang mengisi serta meliputi diri manusia. Manusia hanya tinggal menyerah saja kepada kekuasaan Tuhan yang ada pada dirinya ini dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

c. Konsepsi tentang Alam Semesta
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan kekuasaan Tuhan meliputi seluruh ciptaan-Nya. Hal ini pun sesuai dengan apa yang telah diterima dan disampaikan oleh para utusan Tuhan.

d. Konsepsi tentang Kesempurnaan
Tiada yang sempurna kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua ciptaan Tuhan baik yang kelihatan maupun yang tidak, berada dalam berbagai tingkat kesempurnaan diri yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui saja. Manusia tidak perlu menanyakan tentang tingkat kesempurnaan dirinya karena yang telah diterimanya adalah yang sesuai dengan keadaan dirinya pada suatu waktu tertentu dalam hidupnya. Yang perlu bagi manusia adalah menyerah sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya agar ia menjadi orang yang sempurna yang sesuai dengan kodrat yang ditentukan Tuhan bagi dirinya.[3]
3. Dasar Penghayatan
a. Perilaku Spiritual
Tata cara ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan oleh para anggota Subud melalui tata cara agamanya masing-masing. Latihan Kejiwaan Subud bukan merupakan tata cara penghayatan. Latihan Kejiwaan Subud merupakan suatu penerimaan yang tidak ada tata caranya kecuali penyerahan diri sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang kemudian atas kemurahan Tuhan akan membangkitkan gerak rasa diri, bebas dari pengaruh nafsu hati dan akal pikiran. Gerak tersebut merupakan gerak yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan dan hanya tinggal diikuti saja. [4]

b. Pedoman Penghayatan (Lisan dan Tertulis)
Karena Latihan Kejiwaan Subud merupakan penerimaan dari masing-masing orang yang melakukannya, penerimaan setiap orang tidak ada yang sama dan dengan demikian pedoman tentang Latihan Kejiwaan Subud baik secara lisan maupun tertulis hanyalah merupakan keterangan-keterangan dalam bentuk ceramah-ceramah Bapak Muhammad Subuh yang sebagian sudah dicetak berupa tulisan dan sebagian lagi belum.

c. Kelengkapan Fisik/Material yang Digunakan dalam Melaksanakan Latihan Kejiwaan Subud.
Untuk Latihan Kejiwaan secara bersama diperlukan tempat Latihan yang dapat berupa kamar, ruang atau gedung Latihan. Ruang tempat Latihan ini dapat dilengkapi dengan alas tikar atau karpet. Ruang tempat Latihan pria terpisah dengan wanita atau secara bergantian. Latihan Kejiwaan secara sendiri dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa memerlukan guru.
4. Dasar Pengalaman
a. Dasar Pelaksanaan Latihan Kejiwaan Subud
Penyerahan diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas dan mengikuti gerak diri yang terasa secara spontan begitu rasa diri terbebas dari pengaruh nafsu dan akal pikiran. Anggota Subud yang telah mampu menghentikan Latihannya setiap waktu dalam acara Latihan bersama, dapat melakukan Latihan sendiri di mana saja yang tidak mengganggu atau ter-ganggu oleh orang lain.

b. Pengamalan dalam Tata Kehidupan, dan Upacara-upacara (ritus) dalam Lingkungan Kehidupan.
Subud tidak mempunyai ritual khusus dalam tata kehidupan dan dalam lingkaran kehidupan bermasyarakat. Upacara-upacara para anggota Subud dalam tata kehidupan mengikuti ritual agamanya dan adat-istiadat yang dianutnya masing-masing.

c. Kelembagaan Organisasi Subud
Keberadaan PPK Subud Indonesia secara hukum telah dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam Tambahan Berita Negara R.I. tanggal 4-12-1964 No. 97 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 36 tahun 1964. Anggaran Dasar ini telah mengalami perubahan untuk disesuaikan dengan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Perubahan Anggaran Dasar PPK Subud Indonesia secara hukum telah pula dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam tambahan Berita Negara R.I. tanggal 18 Nopember 1988 No. 93 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 60 tahun 1988.
Para anggota Subud dipelbagai negara membentuk organisasi nasionalnya masing-masing. Organisasi nasional negara-negara ini membentuk Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud Sedunia yang disebut World Subud Association.

d. Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional
Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional adalah melalui pembinaan pribadi melalui Latihan Kejiwaan Subud untuk menghadapi tantangan pembangunan negara dan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Untuk ini, PPK Subud Indonesia mempunyai program kerja yang mencakup bidang-bidang Usaha, Kesejahteraan, Kegiatan Sosial, Kebudayaan, Remaja serta Komunikasi dan Publikasi.

5. Lampiran
a. Pengalaman Pribadi Anggota Subud
Hubungan antara manusia dengan Tuhan difahami dan disadari oleh masing-masing anggota secara sangat pribadi. Pengalaman seorang anggota Subud yang diterima dalam Latihan Kejiwaan Subud dan telah mengubah hidupnya ke arah kebaikan belum tentu mempunyai arti yang sama untuk anggota Subud lain yang mempunyai latar belakang kehidupan dan persoalan yang berbeda.

b. Gambaran Singkat Riwayat Hidup Pendiri
Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, pendiri PPK Susila Budhi Dharma dilahirkan dari seorang Ibu yang pada masa kecilnya tinggal di Kecamatan Juangi, Telawah, Surakarta. Beliau keturunan dari Kadilangu, Demak. Pada waktu dewasanya, lbu dari Bapak Muhammad Subuh pindah ke Kedungjati, Semarang dan menikah di sana.
Bapak Muhammad Subuh dilahirkan di Kedungjati, Semarang pada hari Sabtu Wage tanggal 3 Maulud tahun Dal 1831 atau tanggal 22 Juni 1901 jam 05.00 pagi. Sejak lahirnya, Muhammad Subuh diasuh dan dibesarkan oleh eyangnya, R.M. Sumowardoyo.

Pada tahun 1917, di usia 16 tahun, pada waktu eyang yang membesarkan beliau meninggal dunia, Bapak Muhammad Subuh berhenti sekolah dan bekerja sebagai pegawai Perusahaan Kereta Api N.I.S.
Pada waktu usia mudanya, Bapak Muhammad Subuh sempat memperoleh didikan agama Islam dari Kyai Abdurachman dan taat menjalankan ibadat agama Islam sebagaimana lazimnya seorang muslim. Sewaktu beliau sudah pindah dan bekerja di Balaikota Semarang, pada usia 24 tahun, beliau menerima Latihan Kejiwaan seperti telah dikemukakan sebelumnya.[5]

c. Ceramah-ceramah dari Bpk Muhammad Subuh
Dari sejak beliau menerima Latihan Kejiwaan Subud sampai wafatnya, Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan kepada para anggota Subud nasihat-nasihat yang berupa ceramah-ceramah beliau yang didasarkan kepada penerimaan beliau tentang hidup dan kehidupan ini.
Secara konsisten dan mendasar Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan bahwa manusia harus bersikap menyerah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas jika ia ingin mendapatkan tuntunan Tuhan dalam hidup ini. Melakukan Latihan Kejiwaan dengan.teratur dan tekun merupakan kunci kefahaman dan kesadaran seseorang agar dia dapat menemukan arti kehidupan ini bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. [6]

d. Lain-lain yang Dianggap Perlu dan Relevan dengan Tujuan Pemaparan.
1) Penerimaan Anggota Baru
Untuk setiap orang yang ingin menjadi anggota baru dari organisasi SUBUD ini haruslah memenuhi syarat berikut:
a) Umur telah mencapai 17 tahun,
b) Berkondisi mental normal atau tidak sedang menderita sakit ingatan,

c) Bagi seorang isteri yang suaminya belum anggota harus mendapatkan izin tertulis dari suaminya,
d) Para wanita yang belum menikah dan masih menjadi tanggungan orang tuanya (walinya) harus memperoieh izin tertulis dari orangtua atau walinya itu.

2) Pembukaan untuk dapat menerima Latihan Kejiwaan Subud
peminat terlebih dahulu mengalami pembukaan yang diselenggarakan oleh seorang atau beberapa orang pembantu pelatih. Seorang calon belum dapat dibuka sebelum menjalani masa pencalonan selama 3 bulan dengan pengecualian bagi mereka yang umurnya telah mencapai dan melewati 63 tahun, Mereka yang sedang menderita sakit badaniah yang menghendaki kepastian dan perhatian khusus dan segera, Seorang isteri yang suaminya telah menjadi anggota dan para putra dan putri dari keluarga Subud, Bagi yang bertempat tinggal jauh dari kelompok Latihan Kejiwaan Subud yang ada. [7]

3) Lambang subud
Bertujuan identifikasi semata, satu-satunya lambang yang dapat digunakan dalam Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud adalah sebagai simbol kebaikan untuk usaha meningkatkan dan sebagai sarana penghayatan tidak diperlukan sama sekali.[8]
photo.jpg
Susunan alam dan daya-daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa meliputi dari dimensi yang paling rendah (terbatas) sampai yang paling luas terdapat susunan sebagai yang ditunjukkan dalam lambang Subud dimaksud yakni berupa lingkaran-lingkaran sebagai berikut: Alam dan Daya Hidup/Roh Rewani (Daya Hidup Kebendaan), Alam dan Daya Hidup/Roh Nabati (Daya Hidup Tumbuh-tumbuhan), Alam dan Daya Hidup/Roh Hewani (Daya Hidup Binatang), Alam dan Daya Hidup/Roh Jasmani (Daya Hidup Manusia), Alam dan Daya Hidup/Roh Rohani/Daya Hidup lnsan/Alam Rohaniah, Alam dan Daya Hidup/Roh Rahmani/Daya Hidup para utusan/Alam Rahmaniah, Alam dan Daya Hidup/Roh Robani/Daya Hidup para ciptaan Tuhan yang mendapatkan keluhuran dari Tuhan Yang Maha Esa/Alam Robaniah.[9]
Selain alam dan segala daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa terdapat Daya Hidup Besar yang merupakan bagian dari manifestasi dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yaitu yang ditunjukkan sebagai garis-garis tujuh buah yang menembus dan menghubungkan segala alam dan daya hidup ciptaan tersebut di atas. [10]
Sifat yang ada di dalamnya adalah Roh Ilofi dan yang ada di luar adalah Roh AI Kudus (Rohu'lkudus). Oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Roh Ilofi atau Roh Suci ini digerakkan untuk membangkitkan dan mensucikan, sedangkan Roh AI Kudus meliputi dan membina perjalanan hidup makhluk ciptaan yang memperoleh Rakhmat terbimbing ke arah kehendak Yang Menciptakan

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Latihan Kejiwaan yang telah diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dan telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia merupakan bimbingan serta kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia pada waktu ini. Dasar Latihan Kejiwan Subud adalah sangat sederhana sedangkan manfaatnya untuk kehidupan adalah luar biasa besarnya.
Mereka yang memperoleh pengertian karena menekuni Latihan Kejiwaan ini dengan sabar akan menemukan hal-hal yang di luar dugaannya, di luar akal pikirannya untuk dimengerti, yang terjadi secara mengherankan jika hal ini hanya dilihat dari sudut pandang akal pikiran saja.
Kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari terasa terbimbing ke arah kebaikan, ke arah penyempurnaan kita sebagai manusia seutuhnya, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia, yang mampu menerima kasih sayang-Nya jika saja kita mau menerimanya. Kekuasaan Tuhan ada pada diri kita, mengisi dan meliputi seluruh diri serta tidak terpisahkan. Melalui Latihan Kejiwaan Subud, kekuasaan Tuhan ini dapat kita rasakan.
2.      Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.
Wabillah Taufik Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



DAFTA PUSTAKA
MBA, Rahnip,  Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan , Surabaya: Pustaka Progresif, 1997
http://subudindonesia.tripod.com/ApaItuSubud.htm
https://wongalus.wordpress.com/2009/08/17/susila-budhi-dharma/
http://arwaniilyas.blogspot.com/2014/06/aliran-pangestu-sapta-darma-subud-dan_11.html





[1]Rahnip, MBA, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997). h. 27-52
[2] Artikel di akses pada tanggal 07 Mei 2015 pada http://subudindonesia.tripod.com/ApaItuSubud.htm/
[3] Rahnip, MBA, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan . h. 29
[4] Artikel di akses pada tanggal 07 Mei 2015 pada http://arwaniilyas.blogspot.com/2014/06/aliran-pangestu-sapta-darma-subud-dan_11.html/
[5] Rahnip, MBA, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan . h. 35
[6] http://arwaniilyas.blogspot.com/2014/06/aliran-pangestu-sapta-darma-subud-dan_11.html
[7] Artikel di akses pada tanggal 04 Mei 2015 pada http://subudindonesia.tripod.com/ApaItuSubud.htm/
[8] Artikel di akses pada tanggal 05 Mei 2015 pada https://wongalus.wordpress.com/2009/08/17/susila-budhi-dharma/
[9] Rahnip, MBA, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Dalam Sorotan, h. 30
[10] Artikel di akses pada tanggal 07 Mei 2015 pada http://arwaniilyas.blogspot.com/2014/06/aliran-pangestu-sapta-darma-subud-dan_11.html