Rabu, 23 Oktober 2013

FILSAFAT ISLAM ( Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi


Abu Bakar Al-Razi
  1. Sejarah hidupnya
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya Al-Razi. Di barat dikenal Rhazes. Ia lahir Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (865M). dia hidup pada pemerintahan Dinasti Saman (204-395 H). Pada masa mudanya, ia menjadi tukang intan, penukar uang, dan sebagai pemusik kecapi. Al-Razi adalah seorang yang ulet dalam bekerja dan belajar, karenanya tidak heran kalau ia tampak menonjol dibanding rekan-rekan semasanya, bahkan ia sangat tenar. Di kota Rayy ini dia belajar Kedokteran kepada Al ibn Rabban Al-Thabari (192-240 H/808-855 M), belajar filsafat kepada Al-Bakhi, seorang yang senang mengembara, menguasai filsafat, dan ilmu-ilmu kuno. Ia juga belajar matematika, astronomi, sastra, dan kimia.
Pada masa Mansyur Ibn  Ishaq ibn Ahmad Ibn Asad sebagai gubernur Rayy, Al-Razy diserahin kepercayaan memimpin Rumah Sakit selama 6 tahun (290-296 H/902-908 M). pada masa ini juga Al-Razi menulis buku Al- Thib Al-Mansyuri yang dipersembahkan kepada Mansyur ibn Ishaq ibn Ahmad. Dari Rayy kemudian Al-Razi pergi ke Baghdad. Dan atas permintaan khalifah Al-Muktafi (289-295 H/901-908), yang berkuasa pada waktu itu ia memimpin Rumah Sakit di Baghdad. Untuk menentukan lokasi pendirian bangunan Rumah Sakit di Baghdad ia meletakan potongan-potongan daging diberbagai tempat kemudian memilih tempat dimana daging itu yang paling kurang  pembusukannya. Dalam menjalankan profesi kedokteran, ia dikenal pemurah, sayang kepada pasien-pasiennya, Dermawan kepada orang-orang miskin dengan memberikan pengobatan gratis. Hitti mengatakan bahwa Al-Razi adalah seorang Dokter yang paling besar dan paling orisinal dari seluruh Dokter Muslim, dan juga seorang penulis yang paling produktif kemasyuran Al-Razi sebagai seorang Dokter tidak saja di dunia timur, tapi juga di dunia barat ia kadang-kadang di juluki the erebic galent. Setelah khalifah al muktafi wafat, razi kembali ke Ray, dan meninggal dunia pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M). Setelah menderita sakit katarak yang dia tolak untuk diobati dengan pertimbangan, sudah cukup banyak dunia yang pernah dilihatnya, dan tidak ingin melihatnya lagi.
Diberitakan, Al Razi banyak menghabiskan waktunya bersama murid dan paseinnya, disamping belajar dan menulis, konon keseriusanya dalam belajrlah salah stu penyebab katarak yang dieeritanya. Al Razi dekenalseorang pemberani dalam menetang beberapa kepercayaan Islam yang fundamental, atas dasar sikap yang dipilihnya sebegai seorang rasionalis dan pendukung pandangan kaum naturalis kuno, sehingga ia banyak mendapat kecaman dan caci maki dari pengarang kemudian.
Lawan-lawan Al Razi yang patut dicatat adalah ( Abu Hatim Al Razi (322 H atau 933 M), lawan paling penting mengingat kepiawaiannya  berdakwah dalam aliran islamiyah. Perbedaan pendapatnya dengan Al Razi terutama tentang agama dan kenabian ia tulis dalam buku alam al nubuwwah. Abu Hatim, Al Razi lebih mengutamakan filsafat dari agama yang di anggapnya sebagai khurafat dfan mebawa kepada kebodohan dan taklid. (2) Abu Qasim Al Balkhi, pimpinan kaum Mutaz’lah Baghdad. Perbedaanya degan Al Razi pertama mengenai waktu yang terdapat dalam buku al ilm al ilahi, dan (3) Ibn Tamar yang menolak tulisan Al Razi dalam al thib dan al ruhani.
  1. Hubungan Akal dan Wahyu
Bahwa akal diberi tempat yang istimewa sebagai sumber dan perangkat utama untuk memperoleh pengetahuan. Akal mengendalikan fungsi-fungsi rasa, reaksi gerak,  kehendak, khayalan, fikiran serta ingatan. Dengan akalnya manusia mampu memahami berbagai  gejala alam, membongkar berbagai misteri serta memahami manusia itu sendiri. Karena itu Al-Razi memposisikan akal sebagai penguasa, pengendali, dan tempat bersandar dalam setiap pengambilan keputusan. Sedemikian tinggi kedudukan akal, maka menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk menempatkannya sebagai penentu setiap langkah kehidupan.
Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya kepada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu dan perlunya nabi-nabi. Dia berkeyakinan bahwa akal manusia tetap kuat untuk mengetahui yang baik serta apa yang buruk, untuk tahu pada Tuhan dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Manusia, dalam pendapatnya, pada dasarnya mempunyai daya berfikir yang sama besarnya, dan perbedaan timbul karena berlainan Pendidikan dan berlainan suasana perkembangannya. Nabi-nabi, menurut pendapatnya membawa kehancuran bagi manusia, dengan ajaran-ajaran mereka yang saling bertentangan. Bahkan ajaran-ajaran itu menimbulkan perasaan benci membenci diantara umat manusia yang terkadang meningkat menjadi peperangan agama. Dan karena semua agama kekuasaan yang ada pada pemuka-pemuka agama, dank arena tertarik pada upacara-upacara yang mempengaruhi jiwa rakyat yang sederhana dalam pemikiran qur’an baik dalam bahasa, gaya maupun dalam isi tidak merupakan mukjizat. Al-Razi lebih mementingkan buku-buku falsafat dan ilmu pengetahuan dari pada buku-buku agama. Tetapi dia menentang agama pada umumnya, ia bukanlah seorang Atheis, malahan seorang monotheis yang percaya adanya Tuhan, sebagai penyusun dan pengatur alam ini.
Dalam falsafatnya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dia dekat dengan falsafat Pythagoras, yang memandang kesenangan manusia sebenarnya ialah kembali kepada Tuhan dengan meninggalkan alam materi ini. Untuk kembali ke Tuhan roh harus terlebih dahulu disucikan dan yang dapat menyucikan roh adalah ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa hal. Bagi Al-Razi sebagaimana dilihat, jalan menyucikan roh adalah falsafat. Dalam paham Pythagoras ada transmigration of souls dan ini dalam paham Al-Razi tidak jelas. Al-Razi dengan demikian dekat menyerupai zahid dalam hal hidup kebendaan. Tapi ia menganjurkan moderasi, jangan terlalu bersifat zahid tetapi pula jangan terlalu mencari kesenangan. Manusia harus menjauhi kesenangan yang dapat diperoleh hanya dengan menyakiti orang lain atau yang bertentangan dengan rasio. Tetapi sebaliknya manusia jangan pula sampai tidak makan atau berpakaian, tetapi makan dan berpakaian sekadar untuk memelihara diri.
Al-Razi adalh filosof yang berani mengeluarkan pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan paham yang dianut umat islam, yaitu:
1.         Tidak percaya pada wahyu.
2.         Qur’an tidak mukjizat.
3.         Tidak percaya kepada nabi-nabi.
4.         Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.
  1. Filsafat Lima yang Kekal
Pemikiran  Ar-Razi tentang filsafat lima yang kekal dijadikan dasar dalam menetapkan wujud alam. Artinya alam itu baru akan terwujud bila kelima kekal tersebut ada. Adapun kelima kekal tersebut adalah: Tuhan, Jiwa Universal, Materi pertama, Ruang absolut, Masa absolut. Menurut Al-Razi dua dari lima yang kekal itu hidup dan aktif, yaitu Tuhan dan Jiwa/Roh Universal. Yang satu tidak hidup dan pasif, yaitu materi. Dua lainnya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif, yaitu ruang dan masa absolut.
  1. Tuhan
Menurut Al-Razi Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Kekuasaan-Nya tidak ada yang menyamain. Ia mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia. Sebab pengetahuan manusia dibatasi pengalaman. Sedangkan pengetahuan Tuhan tidak dibatasi oleh pengalaman. Tuhan Tahu tentang sifat jiwa yang cenderung bersatu dengan benda dan mencari kenikmatan material. Setelah jiwa bergabung dengan tubuh Tuhan kemudian mengatur hubungan tersebut kedalam jiwa. Karena memiliki akal jiwa menjadi sadar bahwa selama masih bergabung dengan tubuh ia akan tetap menderita. Dengan akal, jiwa tahu tempat asalnya. Akal pulalah yang menginsyafkan jiwa bahwa kebahagian tertinggi hanya akan diperoleh setelah jiwa mampu melepaskan diri dari tubuh.
  1. Jiwa Universal
Disaat jiwa mendekat pada tubuh, tubuh meronta, melihat nasib jiwa yang tragis ini kemudian Tuhan menolongnya dengan jalan membentuk alam ini dengan susunan yang kuat sehingga roh dapat memperoleh kesenangan material didalamnya. Setelah itu Tuhan menciptakan manusia dari substansi ketuhanan-Nya kemudian diciptakan akal. Fungsi akal adalah menyadarkan manusia bahwa dunia yang dihadapinya sekarang ini bukanlah dunia yang sesungguhnya. Menurut Al-Razi dunia yang sesungguhnya itu dapat dicapai dengan filsafat. Oleh karena itu siapa yang belajar filsafat akan mengerti dunia yang sebenarnya serta memperoleh pengetahuan selamanya akan tetap berada  di dunia sebelum disadarkan oleh filsafat.
  1. Materi pertama
Benda pertama  terdiri dari atom-atom. Masing-masing atom tidak memiliki volume. Tanpa adanya penggabungan dari atom-atom tadi tidak akan ada sesuatu yang terwujud. Atom-atom mempunyai sifat sendiri bila padat ia akan menjadi tanah, kalau kurang padat akan menjadi air. Bila lebih jarang akan menjadi udara dan akhirnya kalau paling jarang akan menjadi api. Sebenarnya teori Al-Razi ini tentang benda merupakan penggabungan antara teori Demokritos dengan teori Empedokles. Selanjutnya Al-Razi mengatakan bahwa bila tidak ada di dunia ini sesuatu yang berasal kecuali dari benda lain, dan sesuatu lain adalah benda. Jadi benda itu abadi, pada mulanya ia tidak membentuk tetapi terpancar dimana-mana.
  1. Ruang Absolut
Setiap wujud memerlukan ruang sebagai tempat berwujud. Ruang merupakan tempat bagi setiap yang wujud maupun yang bukan wujud. Karena materi yang menempati  ruang bersifat kekal, maka ruang tempat materi berada juga kekal. Menurut Al Razi ruang ada dua macam yatiu ruang absolute dan ruang relatif. Ruang absolut adalah ruang yang ditempati oleh seluruh materi, baik sebelum atau sesudah diciptakan, bahkan setelah hancurnya alam menjadi materi-materi yang lain. Keberadaan ruang ini tidak tergantung adanya benda-benda angkasa. Tanpa benda apapun ruang tetap ada. Sedangkan ruang relative adalah  ruang yang terbatas, yang adanya tergantung pada wujud yang menempati. Bila tidak ada yang menempati, maka ruang itu tidak ada.
  1. Masa Absolut
Waktupun menurutnya dibagi menjadi dua macam yaitu : Waktu Absolute dan Waktu yang terbatas. Waktu Absolute ialah perputaran waktu, sifatnya begerak dan kekal. Sedangkan waktu yang terbatas adalah waktu yang di ukur berdasarkan dan pergeraka bumi, matahari, dan bintang-bintang.
Harus dikemukakan segera bahwa Al Razi tidak mengajukan pembuktian apapun tentang kekekalan pencipta maupun jiwa. Cukup jelas ia mempercayai bahwa dunia diciptakan dalam waktu yang bersifat sementara, berbeda dengan plato yang mempunyai dunia diciptakan tetapti bersifat abadi. Oleh karena itu, keabadiaan jiwa dan pencipta harus di nyatakan telah di ajukan oleh Al Razi, sama dengan plato, sebagai sebuah pernyataan akasiomatik. Tidak saja keabadian jiwa, baik a parte ante maupun a parte post, tetapi juga pernah filsafat sebagai satu-satunya jalan kearah penyucian jiwa dan pelpasanya dari belengu tubuh, mencerminkan pengaruh platonik-pithagoreyan yang cukup kentara, yang betentangan dengan konsep islam tentang wahyu dan konsep kenabian. Sebenarnya karena keinginanya untuk menyesuaika diri sepenuhya dengan remis rasionalistiknya, Al Razi telah menolak secara terang-terangan  konsep wahyu dan peranan para nabi sebagai mediator antara tuhan dan manusia. Menurut kenabian itu tidak berguna karena cahaya akal yang dberikan tuhan cukup memadai untuk mengetahui kebenaran, karena ia telah menjadi penyebaab dari begitu banyak pertumpaan darah dan peperangan antara sutu bangsa (mungkin, orang-orang arab) yang meyakini dirinya dianugrahi wahyu ilahi dan yang lain sebagai orang-orang yang kurang beruntung.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar