Rabu, 23 Oktober 2013

FILSAFAT ISLAM ( Ya'kub ibnu Ishaq al-Kindi )



A.      Pendahuluan
Falsafat atau filsafat adalah merupakan kata yang berasal dari bahasa yunani yaitu philosophia sebagai gabungan dari philein yang berarti ”cinta“ dan shoppos yang berarti “hikmah“. Kemudian philosophia masuk kedalam bahasa arab menjadi Falsafat yang berarti cara berfikir menurut kogika dengan bebas, sedalam –dalamnya sampai kepada dasar persoalan.

Dari segi praktisnya berfilsafat berarti “berfikir“ . filsafat berarti “alam fikiran“ atau “alam berfikir”. Namun demikian tidak semua berfikir berarti berfilsafat.Sidi Gazalba mengartikan “berfilsafat“ berarti mencari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan,berfikir secara radikal, sistematis,dan universal. Dapatlah dikatakan bahwa intisari filsafat ialah berfikir secara logika dengan bebas ( tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama ) dan dengan sedalam – dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar persoalan.

Agama yang berarti menguasai diri seorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada tuhan dengan menjalankan ajaran agama. intisari yang terkandung didalamnya adalah “ ikatan “. Agama mengandung arti ikatan – ikatan yanag harus dipegang dan dipatuhi manusia. Karena mempunyai pengaruh dalam aktivitas manusia. Dan ikatan itu, mempunyai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra.

Filsafat bagi al-kindi ialah pengetahuan tentang yang benar. Disinilah terdapat persamaan filsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar apa yang baik.demikian halnya filsafat. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal,dan filsafat juga menggunakan akal. Yang benar pertama bagi al-kindi ialah Tuhan dan filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan. Bahkan al-kindi berani mengatakan bagi orang yang menolak filsafat, telah mengingkari kebenaran, dan menggolongkannya kepada “kafir”, karena orang – orang tersebut telah jauh dari kebenaran, walaupun menganggap dirinya paling benar. Karena keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan:(1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian dan,(3) menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam Agama.

B pembahasan
a.Sejarah hidupnya
Namanya lengkapnya adalah Abu yusup Ya’qub bin ishaq bin sabah bin imran bin ismail bin muhamadh bin al-ay’ats bain qais al-kindi. Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-KindiKeturunan Suku Kindah Ia lahir di kufah sekitar 185H(801) dari keluarga kaya dan terhormat kakek buyutnya,Al-Ay’ts ibn qais adalah sahabat nabi yang gugur bersama sa’ad bin abi waqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia  di Irak.  Sedangkan .  Ayahnya – Ishaq bin Shabah – A/Emir (Gubernur) Kuffah pada zaman Khalifah Daulah Abbasiyah dipimpin Muhammad bin Mansur al-Mahdi (775-785M), Abu Muhammad Musa bin al-Mahdi al-Hadi (785-786 M) dan Harun al-Rasyid (786-809 M).Ishaq bin Shabah keturunan langsung dari al-Ash‘ath b. Qays (Kepala Suku Kindah), sahabat Nabi Muhammad SAW. 
  Pendidikan  pada waktu kecil tidak diketahui. Ada riwayat yang menerangkan bahwa al-kindi pelajar di Basra dan bagdad. Ia termasuk cerdas , menguasai bahasa yunani dan bahasa suryani di samping bahasa arab, seatu yang berlebihan dan jarang yang dimimiliki orang masa itu. Ia hidup pada masa dinasti abasiyah,yaitu Al-Amin(813-813), Al-Ma’mun (813-833)al-mu’tasim(833-842).awas’siq(842- 847) dan al-mutwakil(847-861). Kelibihan-kelibihan yang dimiliki al-kindi menyebabkan dirinya sebagai diangkat sebagai guru dan tabib kerajajan.
Al-kindi dikenal sebagi filusuf muslim yang pertama karena ia orang isalm yang pertama memdalami ilmu-ilimu fiiilsafat. Hinga abad ke-2H / 7 M,imu filsafat masih didominasi orang-orang Kristen suriah. Dikenal sebagai seorang penerjermah ,al-kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat hinelenisme. Bahkan ia dikenal sebagagai pemikir muslim yang pertama yang meghubungkan dan menyelaraskan filsafat dan agama. Dia dikenal sebagai “filosof Arab” atau “filosof Islam”. Dan menjadiTokoh “objektivisme Arab Pertama” tentang masalah ketuhanan (al-Rububiyah), terutama karena pendapat Aristoteles dan Plotinus yang menafsirkan pendapat Aristoteles soal konsep Tuhan.

Karya-karya al-kindi berjumlah 270 buah,kebanyakan di antara berupa  risalah-risalah pendek  dan banyak diantara sudah tidak ditemukan  lagi. Melalui karya-karyanya,al-kindi dapat  diketahui sebagi orang yang beilmu  pengetahuan luas dan mendalam. Karya-karyanya diantara antara lain di kelopokan dalam bidang filsafat,logika,ilmu hitung musik ,astronomi ,geometri,astrologi,dialetika ,piskologi , politik,dan metrologi. Karya-karya tersebut banyak yang di terjemahkan kedalam basa-bahasa eropa,sehinga karya-karnya banayak turut mempengaruhi  pemikiran orang-orang eropa pada abad  pertengahan.
Diantara buku- bukunya al-kindi sebagai beikut:
  Fi al-Qawl fi an-Nafs (Pendapat tentang Jiwa);
  Kalam fi an-Nafs (Pembahasan tentang Jiwa);
  Mahiyah an-Nawm wa ar-Ru’ya (Substansi Tidur dan Mimpi);
  Kemudian dibukukan Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyah.
  Fi al-’Aql (Tentang Akal);
  Al-Hilah li Daf’i al-Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan);
  Kemudian diterbitkan Rasa’il Falsafiyah li al-Kindi wa al-Farabi wa Ibn Bajah wa Ibn ‘Arabi;
  Kitâb al-Kindi ilâ al-Mu‘tashim Billah fî al-Falsafah al-Ûlâ;
  Kitâb fî Annahû lâ Tanâlu al-Falsafah Illâ bi al-‘Ilm al-Riyâdhiyyah (Tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika);
  Kitâb al-Falsafah al-Dâkhilah al Masâ’il al-Manthîqiyyah wa al-Muqtashshah wa Mâ Fauqa al-Thabi‘iyah (tentang filsafat yang diperkenalkan, logika, dan metafisika),
Sebenarnya ,tidak ada kepastian tangal kelahiran ,kematian,dan siapa-sia yang pernah menjadi  gurunya.  L. Massignon mengatakan bahwa al-kindi wafat sekitar 246 H (860 M). C. Nalino menduga tahun 260 H(873 M) dan T. J. de Boer menyebut 257 H (870 M).  Adapun musthafa  Abd al-Raziq(matan rector al azhar) mengatakan tahun 252 H (866 M). Dan yaqut al-himawi  menyebutkan  berusia 80 tahun  atau lebih sedikit

b.Hubungang agama dan filsafat

Filsafat bagi al-kindi ialah pengetahuan tentang yang benar. Disinilah terdapat persamaan filsafat dan agama.Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar apa yang baik.demikian halnya filsafat. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal,dan filsafat juga menggunakan akal. Yang benar pertama bagi al-kindi ialah tuhan.dan filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang tuhan. Bahkan al-kindi berani mengatakan bagi orang yang menolak filsafat, telah mengingkari kebenaran, dan menggolongkannya kepada “kafir”, karena orang – orang tersebut telah jauh dari kebenaran, walaupun menganggap dirinya paling benar. Karena keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan: (1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian dan,(3) menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama. Ia juga menselaraskan antara filsafat dan agama yang didasarkan pada tiga alasan: pertama, ilmu agama merupakan bagian dari filsafat. Kedua, wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian. Ketiga, menuntut ilmu, secara logika diperintahkan dalam agama.
Maka dari itu Alkindi  memeringkas dari sumber-sumber lain yang secara keliru, ia menisbahkan pula kepada Aristoteles. Subjek dan susunanya sesuai benar dengan sumber Neopolitik. Pada definisi pertama, Tuhan disebut ”Sebab pertama” mirip dengan ”Agen Pertamanya” Plotinus, suatu ungkapan yang juga digunakan al-Kindi atau dengan istilahnya ”Yang Esa adalah sebab dari segala sebab”. Definisi-definisi berikutnya  dalam Risalah al-Kindi dikemukakan susunanya yang membedakan antara alam atas dan alam bawah. Yang pertama ditandai dengan definisi-definisi akal, alam, dan jiwa, diikuti dengan definisi-definisi yang menandai alam bawah, dimulai dengan definisi badan (jism), penciptaan (ibda’), materi (hayula), bentuk (shurah).

Jadi yang dimasud dalam  filsafatnya adalahMeringkas pendapat Aristoteles dan meski cenderung pada Plato dan Plotinus dalam soal ketuhanan. Meski dipengaruhi filsafat Yunani dan Platonisme modern, dia kuat percaya pada syari’at Islam. Dia berkata: “Sesungguhnya kebenaran wahyu melampaui tingkat hikmah kemanusiaan, sebagaimana para Nabi yang berbicara atas nama Allah dan orang-orang yang membawa panji Ilahi melampaui semua manusia”.
Filsafat dan agama mirip, sama-sama mencari dan mengenal kebenaran, perbedaan keduanydaberi n dia hanya terletak pada cara yang ditempuh masing-masing dalam mewujudkan kebenaran. Filsafat banyak dipandang  sebagai hasil ke sangupan manusia (hunan skll) yang menepati kedudukan yang tertingi, mempunyai martabat yang mtulia,dan diberi difinisi sebagai pngetahuan tetang hakeu maekat segala sesuat menurut batas ke sangupan manusia.


b.Filsafat ketuhahan
Filsafat Ketuhanan al-Kindi merupakan awal lahirnya perbincangan Ketuhanan, namun penafsiran al-Kindi mengenai Tuhan sangat berbeda dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinius. Mengenai hakikat ke-Tuhanan ia mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang Esa, tidak ada sesuatu benda apapun yang menyerupai akan Tuhan, dan Tuhan tidaklah melahirkan ataupun dilahirkan, akan tetapi Tuhan akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati. Dalam al-Qur’an Surat al-Ikhlas ayat 1 s/d 4 sebagai bukti keberadaan Tuhan.

}  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحٌ
”Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Dalam Islam Sang Khalik atau pencipta dan penguasa segalanya di buat sebuah penamaan yakni ”Allah Swt” sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas maka, itulah bukti yang paling kongkrit bahwa Allah swt itu ada dan hidup kekal selamanya, sedangkan manusia adalah Hamba Allah yang diberikan kehidupan hingga akhirnya mati. Bagaimana kita bisa percaya akan adanya Allah Swt, maka dari itu sebagai manusia biasa diberikan akal, hati dan nurani untuk dapat menyakini adanya Allah swt melalui bukti-bukti kekuasaan Allah Swt.
Agar manusia khususnya umat Islam tidak berselisih paham akan keberadaan Allah Swt, tentang keberadaan alam, ataupun keberadaan manusia itu sendiri, maka sebagai seorang filosof, al-Kindi membagi pengetahuan menjadi dua bahagian, yakni: pertama, pengetahuan Ilahi علم الهي (divine science). Pengetahun ini diambil langsung dari yang tercantum dalam al-Qur-an yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Sedangkan dasar dari pengetahuan ini adalah keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi علم إنسانى (human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason).
Argumen-argumen yang dibawa Qur’an lebih meyakinkan daripada argumen-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran yang di bawa falsafat. Mempelajari filsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bahagian dari filsafat, dan umat Islam diwajibkan belajar teologi.
 Kebenaran yang sesungguhnya hanya pada Allah Swt. Apa yang terlintas di akal hingga terjadi dengan sendirinya di luar akal merupakan sebuah hikmah dalam kehidupan yang mesti kita sadari bahwa terkadang suatu pelajaran sudah kita anggap benar namun akhirnya menjadi sebaliknya. Akhirnya semua akan kembali kepada al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an semuanya mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang insan yang mau berpikir. 
Tuhan dalam falsafat al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti ’aniah atau mahiah. Tidak ’aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, kemudian tuhan tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah, karena Tuhan tidak meruapakan genus atau species. Tuhan hanya satu, dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan adalah tunggal, selain dari Tuhan semuanya mempunyai arti banyak.
Agar dapat memahami penafsiran al-Kindi tentang Tuhan, kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis dan Mu’tazilah. Kaum tradisionalis (Ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya) menafsirkan sifat-sifat Allah dengan nama-nama Allah, mereka menerima makna harfiyah al-Qur’an tanpa memberikan penafsiran lebih jauh. Kaum Mu’tazilah yang semasa dengan al-Kindi, secara akal menafsirkan sifat-sifat Allah demi memantapkan sifat Maha Esa-Nya. 

Walaupun al-Kindi sepaham dengan Muktazilah dalam menafikan sifat dari Zat Allah. Akan tetapi, ketika Muktazilah menyatakan bahwa Tuhan itu mengetahui dengan Ilmu-Nya dan Ilmu-Nya adalah Zat-Nya (’Alim bi’ilm wa ’ilmuh zatuh) berkuasa dengan kekuasaan-Nya dan kekuasaa-Nya adalah Zat-Nya (qadir bi qudratih wa qudratuh zaituh) al-Kindi tidak sepaham dengan pandangan ini. Sesuai dengan paham yang ada dalam Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak Pertama sebagai pendapat Aristoteles.

Jadi filsat ketuhanan al-kindi dapat di ringkas sebagai berikut
}  Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujudnya tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya.
}  Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah atau mahiah.
}  Tuhan tidak tersusun dari materi dan bentuk (الهيولى والصورة  ).
}   
}  Tuhaan tidak memiliki genus atau species.
}  Tuhan adalah al-haqqul awal (الحق الاول ) dan al-haq aal-wahid (الحق الواحد). Ia semata-mata satu. Hanya Ia-lah satu, selain dari Tuhan mengandung arti banyak.







C.  Kesimpulann
Al-Kindi, adalah seorang  filosof yang berusaha mempertemukan agama dengan filsafat. Ia berupaya membuktikan bahwa berfilsafat tidak dilarang. Meski Al-Kindi terpengaruh pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles dan memperlihatkan corak pitagorasme, namun dalam beberapa hal Al-Kindi tidak sependapat dengan para filosof Yunani mengenai hal-hal yang dirasakakn bertentangan dengan ajaran islam yang diyakininya.Sebagai filosof islam pertama yang menyelaraskan agama dengan filsafat, ia telah melicinkan jalan bagi filosof sesudahnya, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.







Refensi :

Nasution, Hasyimsyah, filsafat islam. Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999.
George N. Atiyeh, Al-Kindi Tokoh Filosif Muslim, Islamic Research Institute, 1966.
Sayyed Hossein Nasr. Oliver Leaman, Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam, Jumada Al-tsaniyah (Mizan), 1424 H/Juli 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar