Rabu, 01 Oktober 2014

ZHAM SASTERA (MENULIS UNTUK BERDAKWAH)


Karenanya menulis adalah sebuah proses panjang menuju goresan tinta yang tajam. Semakin diasah, ia akan semakin tajam. Hingga bisa menghunus siapa saja lewat rangkaian katanya. Maka sejatinya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata tanpa makna. Akan tetapi ada makna disetiap kata-kata yang akan merubah peradaban dunia.

***

“Tidak ada resep bagi seorang penulis selain menulis sekarang juga!”

Itulah satu kalimat yang saya temui dalam buku inspiring words for writer. Kalimat yang selalu membuat kobaran api semangat dalam diri saya untuk selalu menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya. Gagasan, ide yang menggeliat-geliat dalam pikiran itu seakan tumpah ruah dalam tulisan saya.

Saya sendiri juga tidak tahu, kapan tepatnya saya mulai menyukai dunia literer. Yang jelas, seingat saya, kala itu saya yang masih duduk dibangku SMP sedang gandrung dengan buku-bukunya bunda Asma Nadia, bang Gol a Gong, bunda Afifah Afrah, bunda Izzatul Janna dan sederet punulis ternama lainnya yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena.

Gaya bahasa yang ringan segmen remaja, dengan muatan dakwah yang terselip didalamnya membuat saya mengidolakan mereka. Dari situlah saya terinspirasi untuk menjadi seorang penulis. Saya ingin berdakwah lewat tulisan saya. Karena saya tahu, saya orang yang paling susah untuk berdialog didepan umum.

Namun perjalanan menjadi seorang penulis tak semudah yang dibayangkan. Butuh waktu, butuh perjuangan untuk bisa merangkai sebuah kata menjadi sebuah kalimat, paragraf hingga menjadi sebuah karya tulis yang indah, penuh makna dan bisa diterima oleh pembaca.

Awalnya saya hanya bisa menuliskan isi hati saya dalam buku harian saya. Lambat laun akhirnya saya memberanikan diri menulis artikel, cerpen yang sengaja saya tulis dibuku tulis. Karena pada saat itu saya belum mempunyai laptop ataupun komputer terjelek sekalipun.

Tulisan yang tak pernah jadi itu kemudian terbuang sia-sia. Karena ketidak beranian saya untuk mendapat komentar atas tulisan yang saya buat. Pernah beberapa kali saya kirimkan ke majalah sekolah (MIFTAH – media informasi MTs N Gresik) dan majalah Annida. Namun tak pernah dimuat. Sekali lagi tak pernah dimuat!

Saya mulai putus asa! Perlahan hoby membaca dan menulis saya mulai pudar seiring dengan kesibukan saya di pesantren saat saya SMA. Akan tetapi saya teringat kembali sebuah kata yang saya tulis dalam biodata singkat almamater smp saya dulu, be teacher, writer and painter. Kata-kata yang akhirnya saya tuliskan kembali dalam biodata alamamater sma saya, saya ingin menjadi seorang penulis buku best seller!

Aah... apakah mungkin? Dari mana jalannya? Bathin saya selalu bertanya-tanya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya menemukan sebuah buku kumal yang terselip diantara tumpukan buku mata pelajaran perpustakaan pondok. Buku inspiring words for writer karya ustadz Fauzul Adzim inilah yang akhirnya membuat saya banyak termotivasi.

Di buku itu diceritakan tentang bang Jhoni Ariadinata, seorang tukang becak yang biasa mangkal di Malioboro yang hampir 500 kali tulisannya ditolak oleh media. Dan berkat kegigihannya kini beliau menjadi penulis yang tak diragukan lagi karyanya. Saya masih ingat, saya sering menemui tulisannya di majalah Annida, dikolom dapur penulis.

Di buku itu saya diajari bagaimana seorang penulis pemula seperti saya ini, agar gigih dan tidak pantang menyerah. Dan dibuku itu pula saya akhirnya tahu, bahwa menulis bukan hanya persoalan merangkai sebuah kata menjadi kalimat yang indah tanpa makna. Akan tetapi, saya diajarkan bahwa menulis adalah goresan tinta yang tajam. Karena Ada makna disetiap rangkaian kata-kata yang mudah dipahami oleh pembacanya.

Lewat buku itu Allah memberikan ruh semangat yang tak pernah habis. Saya mulai kembali menulis. Artikel perjalanan, cerpen, dan apapun yang berkeliaran dalam pikiran saya. Tapi sayang, karena tidak berani mengirimkan kemedia, akhirnya tulisan itu hanya memenuhi folder laptop saya dan sebagian hilang bersama rusaknya hard disk laptop saya.

Alhamdulillah, dipetengahan tahun 2013 silam Allah membukakan jalan untuk saya. Lewat sebuah pelatihan blog yang diisi oleh ustadz Muclisin, owner blog bersamadakwa.com akhirnya tulisan saya muncul dimedia. Dibaca banyak orang. Meskipun awalnya saya ragu, karena yang saya setorkan kala itu hanya sebuah catatan perjalan. Namun berkat tips dari ustadz Muchlisin, tulisan itu kemudian saya edit dan dimuat di bersama dakwah.

Hingga kini, saya masih terus menulis. Meski kadang dalam satu bulan saya hanya bisa menyetorkan satu artikel lepas. Itupun kadang dimuat, kadang tidak. Dan sejak saat bertekad saya akan terus menulis. Apapun profesi dan kesibukan saya, saya ingin melanjutkan cita-cita saya menjadi seorang penulis.

Dari pengalaman saya itu, ada satu hal yang saya selalu saya ingat! Dalam menulis kita harus berani mencoba. Entah itu mengirim kemedia, ikut event kepenulisan atau sekedar meminta teman untuk dibaca. Karena dari situ kita akan tahu letak kekurangan dan kelebihan tulisan kita.

Alhamdulillah, karena kenekatan saya, beberapa pekan lalu saya dihubungi oleh redaksi majalah pondok alumni saya dulu. Tulisan saya dimuat dalam buku “indahnya hidup di pesantren” dengan beberapa alumni lain. semoga kedepannya bukan hanya di bersama dakwah, akan tetapi akan ada artikel atau tulisan-tulisan saya lainnya yang nongkrong disetiap kolom media lainnya. Hingga bertebaranlah dakwah saya ini. Karena cita-cita saya adalah menjadi seorang da’iyyah yang berdakwah lewat goresan tintanya.

Di Kutip dari   : www.pesantrenpenulis.com
[] Oleh: Sri Hidayati Nur


Tidak ada komentar:

Posting Komentar