Rabu, 10 Desember 2014

PEREMPUAN DALAM MEDIA MASA


PEREMPUAN DALAM MEDIA MASA

Persoalan tentang perempuan merupakan persoalan yang senantiasa aktual dan seringkali mengundang perdebatan panjang yang tak berujung. Apapun isu tentang perempuan tidak terasa basi untuk menghiasi atmosfir pembicaraan publik, dan media massa tentu saja merupakan pihak yang sangat berkepentingan terhadap dieksposnya persoalan-persoalan yang menarik seputar persoalan perempuan untuk bisa di konsumsi khalayak.   
 Media massa dan perempuan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa di pisahkan, keduanya memiliki kaitan erat yang berjalin berkelindan saling melengkapi. Perempuan banyak yang memanfaatkan jasa media massa demi untuk meningkatkan popularitasnya, sebaliknya media massa butuh sebuah “nuansa khas” dari seorang perempuan, mulai dari sisi keberhasilan karir dan jabatannya, ketegarannya menyikapi sebuah persoalan besar, “kenekadannya” dalam melakukan sesuatu dan terakhir adalah keberaniannya untuk memperlihatkan auratnya. Setiap perempuan sebenarnya secara umum memiliki “rasa” yang sama dengan laki-laki yakni keinginan untuk terkenal, untuk mendapatkan banyak uang serta untuk menjadi terhormat.
Persoalannya kemudian, apakah akan kita biarkan kondisi ini berjalan apa adanya, tanpa sebuah kontrol dan garis batas yang tegas. Relakah kita mendiamkan kondisi ini dan sebaliknya seolah menutup mata dan telinga kita serta sama sekali tidak peduli dengan hal ini.  Bagi seorang manusia yang masih memiliki nurani dan peduli pada nasib generasi  mudanya ke depan persoalan ini menjadi tidak sederhana. Ia akan memandang dengan serius dan tentu saja tidak akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung. Orang yang punya nurani tentu tidak akan bisa dengan tenang “menikmati” persoalan ini, Ia akan malu mengkonsumsi gambar-gambar seronok yang tersaji di berbagai media massa. 
Ada Empat alasan kenapa kita harus peduli ditertibkannya media massa yang memuat dan menampilkan gambar-gambar seronok dalam penerbitannya : 
Pertama, ketika masyarakat kita belum terdidik dan cerdas dalam memilah-milah informasi yang sampai kepadanya apakah ini merupakan  sebuah pembenaran bagi pengusaha media massa untuk– karena alasan permintaan pasar yang sebenarnya lebih berorientasi pada keuntungan yang akan diraih–menyajikan info-info serta foto-foto vulgar seorang perempuan tanpa merasa sedikitpun membuat kesalahan. Seandainya memang benar, lantas kemana pertimbangan moralitas mereka. Mengapa kondisi masyarakat yang sebagian besarnya memang belum memiliki pendidikan yang cukup terus dibodohi dan direndahkan martabatnya. Harusnya ada proses pendidikan di tingkat wacana masyarakat untuk sedikit demi sedikit menuju sebuah perbaikan. Apabila pembodohan ini dilakukan terus-menerus, bisa jadi berjalannya waktu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap perubahan cara pandang dan cara berpikir masyarakat. Kemajuan berpikir kalau demikian caranya hanya menjadi sebuah retorika semu semata, karena langkanya proses “pencerahan” yang sampai ke masyarakat.  
Apakah mereka yang selama ini bergelut di berbagai media massa yang ada tidak memiliki  pertimbangan yang jauh ke depan, demi penyelamatan sebuah generasi. Kenapa dengan mudah persoalan moralitas ini di tukar dengan nilai-nilai nominal lembaran-lembaran uang tunai. “Sungguh hebat” orang-orang yang sengaja–bahkan mungkin dengan senang hati–meracuni generasi muda bangsa hanya sekedar alasan permintaan pasar. Siapapun mereka–mulai dari si artisnya sendiri, fotografernya, pengusaha media yang bersangkutan serta seluruh yang terkait dengan pembuatan dan penyebaran hal itu–memiliki andil yang sama dalam melakukan demoralisasi anak bangsa. Kondisi ini akan lebih parah lagi manakala pejabat-pejabat yang terkait dengan ijin dan pengontrolan media massa tidak ambil pusing dengan persoalan ini. Apa jadinya kalau mereka yang punya otoritas dalam pengambilan kebijakan ternyata justeru malah mendapatkan keuntungan dari penerbitan yang berasal dari media massa tersebut. 
Kedua, apakah karena alasan popularitas seorang perempuan dengan senang hati memamerkan auratnya di hadapan publik. Benarkah popularitas hanya bisa dicapai dengan hal itu, tidak adakah hal lain yang bisa mendongkrak kepopuleran seorang perempuan. Apabila benar, terlalu naif rasanya jika popularitas yang dicapai tersebut hanya karena memiliki “keberanian” memamerkan kemolekan tubuh. Sungguh rendah martabat seorang perempuan kalau seperti itu. Padahal seorang manusia diciptakan Tuhannya dengan sejumlah bekal hidup dan potensi diri yang akan memandu manusia menjadi terhormat diantara makhluk lainnya yang ada di bumi. Salah satu yang sangat berharga bagi manusia adalah diberikannya manusia berupa seperangkat bagian tubuh yang bernama akal dan pikiran demi untuk kelangsungan hidupnya, yang akan menjadi penentu arah dari seluruh keinginan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian jelas ukuran popularitas seorang perempuan akan sangat rendah nilainya jika hanya disandarkan pada penilaian–penilaian fisik semata. Siapapun orangnya, jika hanya mampu mengeskploitasi kemolekan tubuhnya semata dalam mencapai popularitasnya maka ia harus rela disamakan nilainya dengan binatang peliharaan, yang lebih banyak di nilai dengan standar–standar yang rendah seperti itu.  
Ketiga, di kalangan beberapa artis serta foto model tercipta stigma yang salah tentang arti profesionalisme kerja di bidang mereka. Mereka merasa bahwa semakin mereka berani membuka tubuhnya maka mereka akan semakin banyak mendapatkan imbalan. Tidak mengherankan jika kondisi ini memicu persaingan tidak sehat di kalangan para artis, mereka beranggapan masalah pose-pose vulgar mereka bagian dari dunia kerja mereka.  
Keempat, anggapan bahwa pose-pose vulgar perempuan yang ada di media massa merupakan perwujudan nilai seni, rasanya terlalu dilebih-lebihkan.  Menurut Rendra, saat menghadiri peluncuran album “Bung Karno milik rakyat” apa yang terjadi saat ini  sudah mengarah ke pornografi. Ia mengatakan pornografi bukan hasil karya seni tapi merupakan perbuatan pelecehan terhadap martabat perempuan karena dalam pornografi selera murahan dikipas-kipas dengan mengeksploitasi aurat kaum hawa. Ia menambahkan bahwa pornografi kebanyakan membangkitkan selera rendah yang menjadikan perempuan sebagai obyek, padahal sensualitas perempuan penuh dengan sensualitas kasih sayang bukan sensualitas yang rendahan. Unsur keindahan di dalam bentuk tubuh wanita merupakan ciptaan Tuhan yang tidak layak dan tidak patut  dijadikan obyek untuk membangkitkan selera murahan dan rendahan. 
Logika mempertontonkan aurat wanita karena alasana seni merupakan logika yang  terasa dipaksakan untuk tidak sekedar pengedepanan kepentingnan sang seniman saja dalam lebih banyak menikmati dunianya saja, bukankah seni pada dasarnya berorientasi pada penciptaan keindahan sejati yang tidak didasarkan pada pikiran-pikiran murahan. Kalau memang alasan pengambilan gambar-gambar seronok itu demi alasan seni, apakah tidak ada lagi obyek yang pantas untuk menunjukkan betapa banyak obyek lain ciptaan Tuhan yang sebenarnya tak kalah indah jika dibanding dengan hanya sekedar tubuh seorang wanita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar