Minggu, 28 September 2014

Tangkal ISIS, UIN Jakarta Perketat Perizinan


PDFCetakE-mail

Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – Guna mencegah berkembangnya simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS),  UIN Jakarta akan memperketat perizinan kegiatan. Hal itu dilakukan agar kasus deklarasi kelompok radikal di kampus beberapa waktu lalu tidak terulang lagi.
“Kita tak mau kecolongan kedua kali. Ada kelompok radikal yang menyewa fasilitas publik komersial di kampus yang ternyata digunakan untuk pembaiatan anggota gerakan ISIS,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta Dr Sudarnoto Abdul Hakim saat jumpa pers di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat, Kamis (7/8).
Jumpa pers digelar selain untuk meluruskan pemberitaan negatif mengenai adanya mahasiswa yang menjadi simpatisan ISIS, juga sekaligus rapat koordinasi dengan para pihak terkait, baik di internal kampus maupun di luar kampus. Rapat tersebut antara lain dihadiri para wakil dekan bidang kemahasiswaan, pengurus Masjid Fathullah, pengurus asrama, lembaga kemahasiswaan, kepolisian, TNI, dan unsur kecamatan.
Menurut Sudarnoto, pihaknya ke depan akan segera membuat regulasi baru terkait perizinan kegiatan di kampus selain memperketat pengawasan kegiatan, baik yang dilakukan oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Sebab, katanya, tak sedikit kegiatan di kampus yang dilakukan oleh masyarakat umum.
Diakuinya, di kampus UIN Jakarta terdapat beberapa fasilitas publik yang dapat disewakan untuk pertemuan, seperti Gedung Syahida Inn (semacam hotel) dan Gedung Kopertais. Bahkan Masjid Fathullah, yang meskipun tidak disewakan, juga kerap digunakan untuk berbagai kegiatan seperti diskusi dan pengajian.
“Kami terus terang kaget begitu ada selebaran pamflet yang menyebutkan Masjid Fathullah sebagai tempat sekretariat lowongan pendaftaran budak seks pemuas birahi para jihadis agar bersemangat memerangi kafir. Kami tegaskan itu tidak benar. Itu hanya niat busuk dan jahat kelompok jihadis,” tandas Sudarnoto.
Ia menyebutkan, selebaran pamflet bohong itu menunjukkan rendahnya moral dan martabat kelompok jihadis karena telah merendahkan martabat perempuan, merendahkan fungsi masjid, serta menghina umat Islam dan ajaran Islam. Tak hanya itu, meluasnya pamflet itu juga dapat memecah belah antarumat Islam sendiri.
“Ini jelas sebagai teror tahap awal kelompok jihadis yang bertujuan untuk menciptakan keresahan di masyarakat,” katanya.
Peredaran pamflet bernada provotatif tersebut muncul setelah adanya tayangan video di Youtube tentang ajakan masuk ISIS. Pamflet tersebut menggambarkan sebuah lowongan bagi para “ukhti” (panggilan wanita muslimah) untuk menjadi budak seks yang dapat memuaskan birahi kelompok mujahidin sehingga lebih bersemangat berjihad.
Celakanya, dalam pamflet yang dilengkapi dengan gambar para wanita bercadar namun memperlihatkan paha terbuka dengan latarbelakang kaliat tauhid itu disebutkan Masjid Fathullah sebagai tempat sekretariat pendaftaran. Sementara di bawah gambar dituliskan nama-nama ormas dan partai Islam, seperti Front Pembela Islam (FPI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Hizbut Tahrir.
Ketua Pengurus Masjid Fathullah Ahmad Yani menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak tahu jika masjid tersebut digunakan sebagai tempat lowongan pendaftaran budak seks. Termasuk dalam hal ini bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa maupun masyarakat umum di masjid.
“Masjid itu area publik, selain untuk tempat ibadah juga kegiatan sosial keagamaan lain,” katanya. Namun, kata dia, setelah muncul isu-isu negatif terhadap masjid pihaknya juga akan lebih memperketat pengawasan kegiatan di dalam masjid tersebut. (ns)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar