Selasa, 25 Maret 2014

TOKOH BUDDHISME

MAKALAH
TOKOH BUDDHISME
Makalah ini dibuat untuk salah satu tugas Individu Mahasiswa yaitu Ujian Tengah Semester

Dosen :
Drs. Syaiful Azmi, MA


Disusun Oleh:
JAMILUDDIN
1112032100023

JURUSAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji serta rasa syukur kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat, hidayah serta karunia-Nya penulis dapat menyelessaikan makalah ini.
Di dalam makalah ini terdapat pemaparan yang menjelasan tentang Tokoh Agama Budha atau di sebut juga sebagai Riwayat hidup tokoh pendiri Agama Budha. Penulis menyadari bahwsanya tidak ada manusia yang sempurna, sehingga bila terdapat kekurangan dan keslalahan baik dalam penulisan atau pembahasan di dalam makalah ini, sangat dibutuhkan sekali bagi penulis yaitu sebuah kritikan dan saranya, agar dapat penulis jadikan bahan referensi kembali untuk proses pembelajaran yang akan datang.
Betapapun kecilnya hikmah yang terkandung di dalam makalah ini, penulis berharap dapat memebrikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Ilmu Agama.




BAB I
PENDAHULUAN
1.            Latar Belakang

Bagi Mahasiswa yang telah mempelajari Hinduisme tidak akan heran ketika mendengar tokoh yang sangat kontras sekali dengan zamannya yaitu Sidharta Gautama. Karena dalam periodesasi agama Hindu dikenal dengan zaman Buddha.  Namun sekaligus mendapati kesulitan-kesulitan dalam menguraikan gambaran historis mengenai Sidharta Gautama ini, yang diyakini sebagai pendiri agama Buddha.
Kesulitan-kesulitan itu timbul karena sangat sedikitnya mengenai sumber-sumber sejarah asli yang membahas tentang Sidharta Gautama. Terutama sekali di India, -tempat lahir Sang Buddha- ide atau budaya tentang penulisan biografi tidak dikenal di dalam perpustakaannya. Meskipun begitu, penulis tidak berkecil hati, melalui beberapa sumber yang telah tersedia diantaranya karya Ven Narada Mahathera, berusaha memilah dan memilih mana yang menjadi kajian sejarah. Namun demikian, bukan berarti yang tercantum di sini boleh dipercaya dan yang tidak itu dianggap tidak dapat dipercaya. Penulis berusaha mencoba sebisa mungkin untuk objektif dalam artian dapat diterima umum, dan semoga mendapatakan penerangan mengenai riwayat Hidup Sang Budha.



2.            Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kehidupan tokoh sang Buddha?
2.      Bagaimana tokoh sang Buddha mendapat penerangan tinggi?
3.      Bagaimana tokoh sang budha mengajarkan Dharma?


3.            Tujuan Masalah

1.      Mengetahui kehidupan tokoh sang Buddha
2.      Mengetahui tokoh sang Buddha dalam mendapat penerangan tinggi
3.      Mengetahui tokoh sang Budha dalam mengajarkan Dharma


4.            Manfaat

Pembaca dapat mengetahui makalah ini mengenai  kehidupan tokoh Sang Buddha, tokoh Sang Buddha dalam mendapat penerangan dan tokoh Sang Buddha dalam mengajarkan Dharma.





BAB II
PEMBAHASAN

1.     Kehidupan Sang Buddha ( Sidharta Gautama )

Saat bulan purnama pada Mei, tahun 623 SM di taman  Lumbini. Kapilavastthu diperbatasan India yang sekarang merupakan wilayah Nepal lahir seorang pangeran mulia yang sudah ditunggu-tunggu oleh sang raja bernama Suddhodana dari keluarga Sakya dan istrinya Ratu Maha Maya.[1]
Dikisahkan sebelum kelahiran Sidharta, pada suatu pesta Maya mengucapkan sumpah kesucian dan meminta kepada Suddhodana untuk tidak menunjukan rasa cintanya (melakukan hubungan suami-istri) lagi. Pada malam berikutnya terjadilah penurunan biji secara gaib pada bulan  purnama dan di bawah bintang mengkara. Bodhisattva, dalam wujud seekor gajah putih masuk-dengan penuh kesadaran- ke dalam rahim Maya yang pada saat itu sedang sendirian dikamarnya. Maya hanya merasakan itu seperti mimpi. Di dalam mimpinya itu ia pergi ke Himalaya dan di sana ia diperliahara oleh para dewa dewi yang kemudian tiba-tiba ia dalam keadaan hamil.[2] Dalam kisah lain disebutkan, ia bermimpi bertemu dengan seekor anak gajah dan menari bersamanya. Maya mengajak suaminya ke sebuah hutan dan menceritakan peristiwa itu padanya, bahkan para Brahmana meramalkan bahwa anak yang akan dilahirkannya ini akan menjadi raja besar dan menguasai seluruh dunia. Sebelum masa lahirnya, banyak sekali terjadi keajaiban-keajaiban dan bahkan Maya menjadi sumber pengobatan bagi orang-orang. Ketika masa bersalin semakin dekat, Maya pergi ke taman Lumbini untuk menemui kedua orang tuanya yang berada di desa Lumbini. Pada saat melintasi taman, tiba-tiba ia merasa akan melahirkan kemudian ia melahirkan sambil berdiri dan memgang sebuah pohon.
Ada yang mengatakan bahwa sebelum melahirkan Sidartha, Maya mendapatkan sebuah visi untuk pergi ke sebuah hutan dan melahirkan di sana. Dalam proses melahirkan terjadi keajaiban-keajaiban, ketika Maya akan melahirkan tiba-tiba sebuah batang pohon menunduk sehingga ia dapat berpegangan pada batang tersebut. Maya pun melahirkan tanpa darah, dan bayinya pun sudah dalam keadaan bersih. Bayi itu pun, yang tidak lain adalah Sidharta berjalan sebanyak 7 langkah dan berbicara bahwa ia tidak akan dilahirkan kembali serta akan melepaskan seluruh manusia dari samsara. Ketika ia berjalan dan menginjak bunga teratai yang mati seketika itu pun bunga itu tumbuh lagi.[3]
Tujuh hari setelah kelahiran Sidharta, Maya akhirnya wafat karena dia hanya sebagai tempat untuk kedatangan sang Buddha ke dunia. Kepengasuhanya ditugaskan kep ada adik ratu, Maha Pajapati Gotami yang juga dinikahi oleh raja Suddhodana.
Rakyat sangat bahagia atas kelahiran sang pangeran yang telah ditunggu-tunggu  ini. Bahkan seorang pertapa yang telah mencapai spiritual yang tinggi, Asita, yang dikenalKaladevala pun mengunjungi bayi itu. Raja, merasa terhormat atas kedatangan gurunya yang tidak terduga itu. Ia membawa bayi untuk memberikan salam, tetapi di luar dugaan kaki bayi memutar dan menempel di atas rambut pertapa. Pertapa itu pun mendapatkan visi bahwa kelak bayi ini akan menjadi Buddha, seorang yang mencapai Penerangan Sempurna. Namun, ayahnya tidak setuju, karena ia ingin anaknya menjadi raja yang menguasai seluruh negeri. Akhirnya, pertapa itu pun pergi memberikan salam dengan merangkapkan kedua belah tangan.
Pada hari kelima kelahiran Pangeran, ia diberi nama Siddarttha Gotama. Siddhartaartinya keinginan yang terpenuhi dan Gotama merupakan nama keluarganya.
                
                        Ketika usia Siddharta mencapai 16 tahun, ia menikah dengan saudara sepupunya yang seusia, Yashodara. Hampir selama 13 tahun setelah pernikahnya dia hidup dengan bahagia, dalam kemewahan dan tidak pernah merasakan kesedihan, kekurangan. Ia dikarunia seorang anak. Ia hidup dalam istana tanpa pernah tahu apa yang terjadi di luar istana.[4]
Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya kenyataan itu pun nampak. Suatu ketika Ia ingin keluar istana, tetapi ayahnya tidak mengijinkan. Atas desakan dan paksaan dari Siddharta akhirnya diijinkalah keluar. Namun, ayahnya merekayasa keadaan di luar istana, yang boleh muncul dihadapannya adalah orang yang masih muda, dan gagah perkasa. Dalam acara penyambutan sang pangeran, ternyata ada dua orang yang sudah tua, yang satu buta dan satu lagi pincang. Siddharta terkejut dan menanyakan kepada ajudannya, Channa tentang mereka. Kemudian Channa menjelaskan bahwa mereka adalah manusia seperti kita, hanya usia mereka sudah tua. Sekembalinya ke istana, Siddharta marah kepada ayahnya karena selama ini dia menyembunyikan keadaan sebenarnya yang terjadi di luar istana. Ayahnya menjelaskan dengan sangat lembut tanpa nada tinggi bahwa apa yang dilakukanya adalah kasih sayang kepada Siddharta.
Istana bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi Siddharta yang sedang melakukan perenungan. Kehidupan istana yang begitu mempesona tidak dapat menjawab segala kegundahan yang dialami oleh Siddharta. Dia meyakini punya peranan penting ketimbang sebagai raja Kapilavastthu. Istri muda, anak yang terkasih tidak dapat menghalangi dan mengubah keputusannya untuk melakukan perenungan di luar istana. Waktu untuk meninggalkan keduniawian sudah tiba.
Ketika malam di mana Siddharta akan melakukan perjalanan suci yang bersejarah, tiba-tiba awan hitam menyelimuti kerajaan sehingga semua orang yang tinggal dikerajaan tertidur pulas. Kemudian Siddharta membangunkan Channa untuk menyiapkan kuda Kanthaka lalu pergi ke gerbang istana. Sebelum meninggalkan istana, Siddharta pergi ke kamarnya berdiri dengan tenang memandang istri  dan anaknya yang tidur nyenyak. Dia sangat menyayangi keduanya, namun kasih sayang kepada umat manusia lebih mendominasinya untuk menyelamatkan mereka dari segala penderitaan.
Pada saat usia 29 tahun, Siddharta melaksanakan perjalanan bersejarah itu. Beliau pergi jauh, menyeberangi sungai Anoma dan beristirahat di tepi sungai. Di sini beliau mencukur rambut dan janggutnya serta memberikan pakaian dan perhiasaan kepada Channa dengan menyuruh agar ia kembali ke istana, selanjutnya ia mengenakan pakaian kuning sederhana untuk menjalani kehidupan miskin.
Siddhartha sebelum melakukan pertapaan, hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta. Tapi kini ia menjadi seorang papa, hidup dari pemberian para dermawan atas kemauan mereka sendiri.
Siddharta tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Siang atau malam pohin yang rindang atau gua menjadi tempat berteduh sementara. Tanpa alas kaki dan tudung kepala berjalan di bawah sengatan matahari dan kadang dingin yang menusuk.
Beberapa tahun, ia jalani sebagai pertapa. Pada akhirnya ia menemukan seorang pertapa yang terkenal, Alara kalama untuk membimbingnya mencapai Kesunyataan. Lama Siddharta berguru pada Kalama, tetapi tidak sampai pada pemahaman Kesunyataan tertinggi.
Usaha ini menenangkan pikirannya tetapi tidak dapat menjawab segala kegundahan yang dia rasakan yaitu menemukan obat untuk menghilangkan penderitaan.


2.      Tokoh Sang Buddha Mendapatkan Penerangan Tertinggi

Ketika dia berhasil keluar dari istana dan bertekad menjadi seorang pertapa, ia telah siap menerima segala resikonya. Walaupun menjumpai kekecewaan tetapi tidak mengecilkan hati pertapa Gotama, untuk mencari dan menemukan makna dari kehidupan ini. Pengembaraannya melalui daerah Maghada dan tiba di daerah Uruvela (kota dagang Senani). Di sana ia menemukan sebuah tempat yang dianggap cocok untuk meditasi, sebuah hutan belukar yang sangat rimbun dengan pepohonan seperti belum terjamah oleh manusia.
Mula-mula ia melakukan olah pernapasan dan pantangan makan. Pada fase pertama ia melakukan pantangan makan secara ekstrim. Kemudian ia menjadi terkenal sebagai pertapa yang suci sehingga diikuti oleh lima pertapa lain yang kemudian menjadi murid-muridnya generasi pertama yaitu Kondana, Bodiya,  Wappam Mahanama dan Asaji. Selama enam tahun mereka menahan lapar dan haus tidak makan dan minum, sehinnga tubuh mereka semakin melemah. Bahkan begitu kerasnya puasa yang dia lakukan, ketika menyentuh pusarnya maka ia dapat merasaakan tulang punggungnya. Tiba-tiba Siddharta jatuh pingsan sehingga murid-muridnya mengira bahwa ia telah mati. Namun ia sadar kembali dan menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini tidak bermanfaat[5].
Ada yang mengatakan bahwa ketika ia sedang melakukan meditasi, melintaslah seorang pujangga yang sedang memetik dawainya. Ia menyadari jika senar itu diikatkan terlalu keras, maka yang terjadi putus dan jika terlalu kendor maka tidak akan menghasilkan bunyi yang bagus tidak sedap didengarkan. Namun hal imi, membuat  kelima muridnya goncang dan meninggalkan dia sendiri. Siddharta melakukan jalan tengah, karena ia menyadari bahwa Penerangan Sempurna tidak dapat dicapai dengan tubuh yang amat lelah seperti ini. Kesehatan jasmani perlu sekali untuk kemajuan batin. Jadi dia memutuskan untuk memberikan makan secara sedikit-sedikit kepada tubuhnya.[6]
Pada suatu malam di bulan Waisak, ketika purnama di tepi sungai Neranjara, Siddharta yang kala itu berusia 35 tahun, duduk padmasana di bawah pohon Assatta(pohon Bodi) sambil mengheningkan cipta melakukan meditasi dengan mengatur pernapasannya, sehingga ia mendapatkan penerangan sempurna meliputi pengetahuan yang tinggi,[7] yaitu :
a.       Pubbenivasanussati, yaitu pengetahuan tentang kehidupan dan proses kelahiran kembali (tumiba lahir)
b.      Dibacakkhu, yaitu pengetahuan dari mata dewa dan mata batin
c.       Cuti upapatana, yaitu pengetahuan bahwa timbul dan hilangnya bentuk-bentuk kehidupan, baik atau buruk, bergantung pada perilaku masing-masing
d.      Asvakkhayanana, pengetahuan tentang padamnya semua kecenderungan dan Adviya, tentang menghilangkan ketidaktahuan.
Setelah tujuh minggu menetap dengan tujuh kali bergeser tempat di sekeliling Pohon Bodi, maka hari terkakhir dari peristiwa yang suci itu, datanglah dua saudara, Tapusa dab Bhaluka yang terpesona melihat Sang Buddha. Kemudian keduanya mempersembahkan nasi, makanan dan madu serta memohon untuk menjadi pengikutnya. Itulah pengikut Buddha yang pertama.
Dengan demikian, ia mendapatkan penerangan yang paripurna, pengetahuan sejati dan kebebasan batin sempurna. Dia telah mendapatkan jawaban atas teka-teki kehidupan yang selama ini dia cari dengan pengertian penuh sebagaimana tercantum dalam empat “kasunyataan mulia” yaitu Penderitaan, Sumber Penderitaan, Lenyapnya penderitaan dan delapan cara yang utama untuk melenyapkan penderitaan itu.


3.     Bagaimana tokoh Sang Buddha mengajarkan Dharma

Pada suatu ketika setelah tercapainya Penerangan, Sang Buddha berada di kaki pohon Ajapala banyan ditepi sungai Neranjara. Karena beliau sedang bermeditasi sendiri, pikiran semacam ini muncul dalam benaknya, apakah untuk dirinya sendiri ; atau apakah dia bertanggung jawab untuk mengajar orang lain? Setelah sejumlah perdebatan dengan dirinya sendiri, dia memilih menjadi guru Dharma. Formulasi paling dasar wawasannya adalah Empat Kebenaran Utama. Semua kehidupan adalah penderitaan. Penyebab penderitaan adalah keinginan. Menghilangkan keinginan berarti menghilangkan penderitaan. Cara menghilangkan penderitaan adalah dengan mengikuti Delapan Jalan yang utama : pandangan yang benar, perhatian yang benar, berkata yang benar, bertindak yang benar, hidup yang benar, berusaha yang benar, berpikiran yang benar dan berkonsentrasi yang benar[8].
Ajaran Buddha selalu merujuk pada Empat Kebenaran Utama. Ajaran ini menggunakan Delapan Jalan sebagai rangsangan untuk melengkapi bentuk agama yang lengkap dan utuh yang difokuskan pada tiga perhatian utama : kebijaksanaan, moralitas dan meditasi. Buddha menghabiskan separuh akhir hidupnya mengajarkan apa yang telah dipelajarinya. Motifnya adalah keinginan yang besar agar semua makhluk hidup memperoleh penerangan seperti yang diberikan padanya. Dibanding dengan cahaya yang menyinarinya, tidak ada yang bersifat dunia yang dapat mempengaruhinya. Karenanya dia berkelana dalam kesunyianm mengemis untuk makan, mengajarkan mereka yang ingin mendengarkan solusinya terhadap masalah keberadaan manusia.[9]
Selama 45 tahun lamanya Sang Buddha mengajarkan ajaran-ajaranya, pengikutnya semakin bertambah dari sekitar 60 orang anggota sangha menjadi ribuan orang yang tentunya memerlukan banyak Vihara. Pada akhirnya Siddharta wafat usia 80 tahun di Kusiwara yang terletak sekitar 180 Km kota Benares. Ia meninggal tanpa menunjukan siapa yang akan menjadi penerus setelahnya, terjadilah perpecahan dihari kemudian ke pada dua golongan, yaitu Theravada (Hinayana) dan Mahasangika (Mahayana


BAB III
PENUTUP

Pada saat dia mendirikan sebuah komunitas penting yang terdri dari para pendeta, Siddharta sangat puas dengan perannya sebagai guru Dharm, pemrakarsa Ketertiban terhadap model kehidupan yang diberkat. Jika cahaya adalah simbol sentral dalam pengalaman jiwa yang membuat dia menjadi seorang Buddha, kedamaian tampaknya mendominasi penampilan luarnya. Dia sangat ramah, lembut tetapi sangat tegas ketika menyangkut tentang kebenaran religius.
Siddharta mungkin menggunakan intuisinya untuk menunjukan peran penting kerukunan, dari pemahamannya yang dicerahkan bagi sifat alami manusia. Siddharta memikirkan kelompoknya sebagai sebuah kelompok demokrasi dalam artian bahwa dia menginginkan mereka untuk berkumpul lebih sering, supaya melakukan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat mempertahankan ketertiban.
Keheningan yang kita temukan dalam diri Siddharta dan kejujuran konservatif yang terbingkai dari khotbah-khotbahnya, dipahami sebagai ekspresi keseimbangan di dalam jiwa. Keseimbangan itu membuat dia menyatakat memiliki kebijaksanaan persuasif.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Mukti, Khrishnanda, Wacana Hindu-Buddha.  Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan, 2003.
2. Ali, Mukti Agama-agama Dunia. Yogyakarta : PT. Hanindita.
3. http://buddhisme.wordpress.com
4. Ali, Abdullah, Agama dalam Ilmu Perbandingan, Bandung : Penerbit                NUANSA AULIA, 2007,






[1]  Mukti, Khrishnanda, Wacana Hindu-Buddha.  Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan, 2003, hal 104
[2]  Ali, Abdullah, Agama dalam Ilmu Perbandingan, Bandung : Penerbit NUANSA AULIA, 2007, hal, 175
[3]  Ali, Mukti Agama-agama Dunia. Yogyakarta : PT. Hanindita, 1988, hal 115
[4] Ali, Abdullah, Agama dalam Ilmu Perbandingan, Bandung : Penerbit NUANSA AULIA, 2007, hal,159
[5]  Ali, Mukti Agama-agama Dunia. Yogyakarta : PT. Hanindita, 1988, hal108
[6] Mukti, Khrishnanda, Wacana Hindu-Buddha.  Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan, 2003, hal 108
[7] Ali, Abdullah, Agama dalam Ilmu Perbandingan, Bandung : Penerbit NUANSA AULIA, 2007, hal,160
[8] Ali, Mukti Agama-agama Dunia. Yogyakarta : PT. Hanindita, 1988, hal 112
[9] Mukti, Khrishnanda, Wacana Hindu-Buddha.  Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan, 2003, hal 106

Selasa, 11 Maret 2014

KETIKA AGAMA DIJADIKAN ALAT LEGITIMASI PENGUASA

Legitimasi Agama
KETIKA AGAMA DIJADIKAN ALAT LEGITIMASI PENGUASA

A.     Pendahuluan
Agama untuk membius masyarakat, sebuah peryataan yang mungkin asing ditelinga kita, tapi ini sebuah fenomena nyata yang dimana agama dijaadikan instrumen oleh para penguasa untuk menindas rakyat atau pun melangengkan kekuasaanya. Semasa orde baru fenomena serupa juga muncul, anehnya lagi banyak mereka yang disebut ulama tanpa sadar dan tanpa penolakan telah dijadikan tameng oleh penguasa untuk menjinakan umat islam agar tetap tenag sekalipun berbagai tindakan kemungkaran telah terjadi.
Pertautan antar agama dengan Negara (kekuasaan) menjadi penting, masalah ini terkait erat dengan enclave yang sebenarnya berbeda tapi disatukan, diakomodasikan secara simultan. Agama yang secara doktrinal-dogmatis memiliki otoritas pembenar  akan ajaranya karena bersumber dari otoritas wahyu sering kali terseret pada persoalan kekuasaan politik, ekonomi, dan budaya. Sementara Negara yang secara doctrinal (dogmatis-politis) memiliki otoritas untuk melakukn pembenaran terhadap kebijakan yang diambilnya, berlaku “tidak adil” pada masyarakat. Hal tersebut terjadi karena Negara mengangap  bahwa kekuasaan atas kebijakan atau keputusanya perlu diakui dan dijalankan oleh rakyat. Secara politis (kekuasaan), penguasa Negara akan mendapat pengakuan secara wajar apabila penguasa memang memiliki “moral” yang dapat dipertanggung jawabkan pantas dihormati, dn ditaati. Tetapi bila kekuasannya tidak lagi dipercaya, diikuti, dan dilaksanakan oleh masyarakat, penguasa biasanya berusaha sekalipun kadang dengan memaksa kehendak mencari pembenaran atas kebijakan yang diputuskan untuk dapat dipercaya kembali.[1]
Menarik untuk dipesoalkan disini mengapa penguasa/pemerintah kadang cenderung memakai agama sebagai pembenar terhadap kebijakannya, terlebih agama mayoritas ?agama pun ahirnya dipolitisir demi kepentingan sesaat atas nama kepentingan  dan stabilitas.

B.     Rumusan Masalah
Agar makalah ini fokus pada topik yang diangkat maka penulis merumuskan masalah sebgai berikut :
1.   Apa sebenarnya agama itu dan apa funsinya?
2.   Apa yang dimaksud dengan legitimasi?
3.   Bagai mana jadinya jika agama dijadikan alat legitimasi penguasa?

C.     Pembahasan
1.      Pengertian agama dan funsian agama bagi manusia dan masyarakat.
a.    Pengertia agama
Menurut kamus modern bahasa Indonesia dinyatakan bahwa agama adalah kepercayan kepada kesaktian roh nenek moyang , dewa, dan tuhan.[2] Menurut kamus umum bahasa Indonesia, agama adalah segenap kepercayaan kepaada tuhan, dewa dengan kebaktian dan kuwajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.[3] Sedangkan ditinjau dari segi sosiologi, agama diartikan sebagai jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan nonempiris yang dipecayainya dan didayagunakan untuk keselamatan bagi diri mereka dan masyarakat luas pada umumnya.[4]
Dari difinisi diatas yang dimana agama ditinjau dari segi sosiologi dapat dijelaskan secara singkat dibawah ini.[5]
ØAgama disebut jenis sistem sosial.Ini hendak menjelaskan bahwa agama adalah suatu fenomena sosial, suatu peristiwa kemasyarakatan suatu sistem sosial dapat dianalisis, karena terdiri dari atas suatu kompleks kaidah dan peraturan yang dibuat saling berkaitan dan terarahkan kepada tujuan tertentu.
ØAgama berporos pada kekuatan-kekuatan nonempiris, ungkapan ini mau mengatakan bahwa agama itu khas berurusan dengan kekuatan-kekuatn dari “dunia luar” yang di-“huni” oleh kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari pada kekuatan –kekuatan yang lebih tinggi dari pada kekuatan maanusia dan yang dipercayai sebagai arwah, roh-roh dan roh tertinggi.
ØManusia mendayagunakan kekuatan diatas untuk kepentingan sendiri dan masyarakat sekitarnya.Yang dimaksud dengan kepentingan (keselamatan) ialah keselamatan didalam dunia sekarang ini dan keselamatan di “dunia lain” yang dimasuki manusia sesudah kematian.
b.    Fungsi agama bagi manusia dan masyarakat
            Pemahaman mengenai fungsi agama tidak dapat dilepas dari tantangan-tangan  yangdihadapi yang dihadapi manusia dan masyarakat. Untuk mengatasi itu semua manusia lari kepada agama, karena manusia percaya dengan keyakinan yang kuat bahwa agama memiliki kesanggupan yang definitive dalam menolong manusia. Adapun fungsi agama sebagai berikut :[6]
1.      Fungsi edukatif
        Manusia mempercayakan fungsi edukatif kepada agama yang mencakup tugas mengajar dan tugas bimbingan.Lain dari instasi (institusi profane) agama diangap sanggup memberikan pengajaran dan otoritatif, bahkan dalam hal-hal yang “sakral” tidak dapat salah. Agama menyampaikan ajarannya dengan perantara petugas-petugasnya baik didalam upacara keagamaan, khotbah renungan  (meditasi), pendalaman rohani dll. Maupun diluar perayaan liturgis. Untuk melakukan tugas itu ditunjuk sebuah fungsionaris seperti: syaman, dukun, kyai, pendadan, pendeta, iman, nabi. Mengenai disebut nabi ini dipercayai bahwa penunjukan dilakukan oleh tuhan sendiri. Kebenaran ajaran mereka yang harus diterima dan yang tak dapat keliru., didasari ata kepercayaan penganut-penganutnya, bahwa mereka dapat berhubungan langsung dengan “yang gaib” dan “yang sakral” dan mendapat ilham khusus darinya.
Tugas bimbingan yang diberikan petugas agama juga dibenarkan dan diterima berdasarkan pertimbaangan yang sama. Pengalaman dari masa ke masa mengukuhkan dan membenarkan apa yang dikatakan diatas. Masyarakat mempercayakan angota-angotanya kepada instansi agama dengan keyakinan bahwa mereka sbagai manusia (dibawah bimbingan agama) akan berhasil menapai kedewasaan pribadinya yang penuh melalui proses hidup yang telah ditentukan oleh hukum pertumbuhan yang penuh ancaman dari situasi yang tidk menentu dan mara bahaya yang dapat mengagalkannya melalui dari masa kelahiran dan kanak-kanak menuju kemasa remaja dan masa dewasanya.
2.      Fungsi penyelamatan
        Tanpa atau dengan penelitian ilmiah, cukup berdasakan pengalaman sehari-hari, dapat dipastikan bahwa setiap manusia menginginkan keselamatanna baik dalam hidup sekarang ini mupun sesudah mati, usaha untuk mencapai cita-cita tertinggi (yang tumbuh dari naluri manusia sendiri) tidak boleh dipandang ringan begitu saja.Jaminan untuk itu mereka temukan dalam agama. Terutama agama mengajarkan dan memberika jaminan dengan cara-cara yang yang khas untuk mencapai kebahagiaan yang “terahir” yang pencapaiannya mengatasi kemampuan manusia secara mutlak, karena kebahagiaan itu diluar batas kekuatan manusia (breaking points).Orang berpendapat bahwa hanya manusia agama (home religiosus) dapat mencapai titik itu, entah itu manusia yang hidup dalam masyarakat primitive, entah dalam masyarakat modern.
3.      Fungsi pengawasan sosial (social control)
        Pada umumnya manusia, pada zaman bahari entah dari zaman modern, mempuyai keyakinan yang sama, bahwa kesejahteraan kelompok sosial khususnya dan masyarakat besar umumny tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan kelompok atau masyarakat itu kepada kaidah-kaidah susila dan hukum-hukum rasional yang telah ada pada kelompok atau masyarakat itu. Disadri pula (terkecuali kaum anarkis) bahwa penyelewengan terhadap norma-norma susila dan peraturan yang berlaku mendatangkan mala petaka dan kesusahan dan pada waktunya melemahkan fungsi masyarakat. Kenakalan remaja, pembunuhan dari kualitas yang biasa hingga yang sadis, peperagan antar bangsabdengan  alat-alat penghancur  yang mengerikan adalah beberapa contoh yang membenarkan peryataan diatas. Maslahnya menjadi lebih sulit apabila pelangaran kaidah moral itu dilakuakan oleh oknum atau instansi pemerintah yang sah.Misalnya tindakan melanggar keadilan dan hak-hak azasi manusia, dalam bentuk penindasan si lemah (baik dalam hal pengetahuan maupun kekayaan, penahanan warga yang Negara yang salah kelewat batas, dlsb.
        Oleh karena itu agama merasa ikut bertanggung jawab atas adanya norma-norma susila yang baik yang diberlakukan atas masyarakat manusia umumnya. Maka agama menyeleksi kaidah-kaidah yang ada dan mengukuhkan yang bik dengan kaidah yag baik dan menolak kaidah yag buruk untuk ditingalkan sebagai larangan atau tabu. Agama memberi juga sangsi-sangsi yang harus dijatuhkan kepada orang yang melanggarnya dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaanya.

2.      Legitimasi
Kata legitimasi menurut kamus ilmiah mempuyai arti pembenaran/pengakuaan menurut hukum (atau perundang-undangan yang berlaku); hak kekuasaan; bukti sah jati diri seseorag.[7] Sedangkan menurut Bellah dalam buku “agama rakyat agama penguasa” menyatakan bahwa legitimasi yakni sebagai suatu pengetahuan yang diobyektifasikan secara sosial sehingga memungkinkan untuk menjelaskan dan menjustifikasi tertib sosial yang ada, kemudian legitimasi (kekuasan dan otoritas politik) dikaitkan dengan agama. Asumsi yang dipakai adalah bahwa meski agama bukan satu-satunya sumber legitimasi , namun dalam sejarah ia merupakan instrument legitimasi yang efektif dan menyebar.[8] Oleh karena itu yang perlu diwaspadai kemudian adalah ketika agama itu hanya sekedar dijadikan instrument legitimasi yang tidak menggambarkan realitas dan kemaslahatan rakyat.

3.      Agama sebagai instrumen legitimasi penguasa
Menarik untuk dikaji bersama ketika sebuah agama dijadikan instrument legitimasi penguasa, terlebih agama mayoritas. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa agama mayoritas secara defacto dapat memberikan dukungan atas apa yang dipaksakan pada seluruh masyarakak. Hal semacam ini akan terjadi ketika penguasa telah kehilangan kepercayaan diri terhadap apa yang menjadi pijaan, sementara masyarakat menghedaki perubahan sebuah tatanan yang lebih baik. Kecenderungan agama mayoritas dimanfaatkan oleh penguasa politik karena dilihat masih memiliki potensi sebagai alat justifikasi.Sehingga terdapat kekhawatiran dipihak penguasa politik ketika masyarakat sudah tidak percaya terhadap kebijakan politiknya.[9]
Bila kita menoleh kebelakang/menengok sejarah, semisal kesultanan pesisir jawa seperti yang diperlihatkan Amangkurat I, guna membunuh “daya kritik” masyarakat berbasis religio politik santri di bawah penguasa nya, beliau menempuh cara-cara kultural dan sekaligus dikawal dengan cara-cara koersif.Penundukan atas kesultanan Jawa pesisir dengan pemakaian simbol-simbol tradisional jawa lainya, adalah bukti penundukan mereka secara kultural. Pemakaian simbol-simbol agama, sebagai sayidin panata gama kalifatullah,menyertai simbol-simbol tradisional jawa lainya, adalah bukti penundukan merek secara kultural. Pemakaian simbol-simbol agama tersebut tidak berkaitan dengan upaya “pencerahan” bagi entitas rakyatnya yang distruktur oleh norma, nilai dan ajaran islam. Kesan penundukan itu semakin kentara, setelah “pangeran-pangeran” dari pendalaman jawa itu bersikap sensitif terhadap para pendakwa agama yang mengorbarkan sikap kritis dalam memberi makna terhadap kekuasaan.Sikap kritis itu yang ternyata dihadapi dan diselaisaikan degan jalan koersif.Pembunuhan terhadap para pendakwah agamapun tak terelakkan, demi kelanggengan kuasa wibawa mereka.
Waba’du, agama tetap muncul dalam ranah-ranah simbolik seperti yang didefinisikan “sang pangeran”, namun agama disitu telah kehilangan daya kritis dan kemampuannya dalam ispirasi dan jalan keluar menghadapi berbagai penyimpangan dan praktek ketidak adila.Para pangeran itu lalu degan gampang mengundang dan membawa para pendakwa ke “istana” nya.Pendakwah yang mengkonstruksi agama tanpa daya kritis itu pun suka dengan undangan itu. Setiba di “istana” tentu dengan berbagai bentuk halaqah atau forum, apakah takbir akbar, pengajian akbar dan semisal lainya, mereka membacakan dalil-dalil yang diambil dari sumber imperative agamanya, lalu berkhotbah, berfatwa tentang segi-segi baik sambil mnyembunyikan sisa-sisa gelap dari langkag “sang pangeran”. Dari kunjungan di istana itu tak jarang ditutup dengan doa pengharapan demi tegaknya kuasa wibawa “sang pangeran”.[10]
Atas dasar kisah-kisah semacam itulah maka Robert Ackermann (1991) berkesimpulan bahwa jika agama kehilangan daya kritisnya, pada hakikatnya agama itu telah mati.[11] Karena kisah-kisah semacam itulah pula makan Karl Marx (1818) bersikap pesimistik terhadap agama. Agama dimata ilmuwan radikal asal trier jerman itu kehilangan daya kritisnya, Karena dikonstrusi menjadi bagian dari superstruktur masyarakat. Sebagai superstruktur, ia otonom, dengan menturutkan rasionalitas dan kepentingannya sendir, dan biasnya tunduk kepada kemauan pemilik  kuasa wibawa, siapapun dia, apa pun namanya, klas feudal atau borjuasi. Dalam kontek ini agama lalu digunakan sbagai sumber pembenaran tindakan, yang tidak selalu berkaitan dengan upaya-upaya fungsionl meraih cita-cita bersama serta pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan yang ada.[12]
Begitulah para pemegang kuasa wibawa itu, di mata marx agama digunakan untuk membius masyarakat sehingga masyarakat tak sadarkan diri bahwa kenyataan struktur telah membelenggu, mengendala, dan mengeksploitasi dirinya.[13] Sehingga wajar kalau Karl Marx berujar agama adalah candu Rakyat. Sehingga rakyat hanya dibawa dalan angan-angan dan cita-cita belaka.
Pada ahirnya agama hanya dihadirkan sebagai legitimasi dan justifikasi kepentingan elit penguasa yang sedng memainkan suatu orde politik.Agama-agama dihadirkan sebagai “kendaraan” aktor penguasa dan fungsi agama sebagai sosial kontrol tak berlaku karena daya kritisnya telah hilang.

D.     Kesimpulan
Dari penjelasan makalah diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Þ   agama diartikan sebagai jenis system social yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan nonempiris yang dipecayainya dan didayagunakan untuk keselamatan bagi diri mereka dan masyarakat luas pada umumnya.
Þ  Funsi agama bagi manusia dan masyarakat ada tiga :
Ø  Fungsi edukatif
Ø  Fungsi penyelamat
Ø  Fungsi pengawasan sosial (social control)
Þ  Menurut Bella legitimasi yakni sebagai suatu pengetahuan yang diobyektifasikan secara sosial sehingga memungkinkan untuk menjelaskan dan menjustifikasi tertib sosial yang ada, kemudian legitimasi (kekuasan dan otoritas politik) dikaitkan dengan agama. Asumsi yang dipakai adalah bahwa meski agama bukan satu-satunya sumber legitimasi , namun dalam sejarah ia merupakan instrument legitimasi yang efektif dan menyebar.
Þ  Ketika agama menjdi alat legitimasi penguasa, maka hakikat agama tersesebut telah mati, dan peran agama sebagai pegawasan social tidak berlaku karena daya kritisnya telah hilang.

E.      Penutup
Demikian makalah yang dapat kami sajikan, sebagai manusia kami tidak luput dari kesalahan, maka kritik dan saran konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kedepan.Semoga bermanfaat bagi saya dan bgi pembaca pada umumnya.Amiin.

F.      Daftar Pustaka
Abdullah, M. Amin, Studi Agama, pustaka pelajar, Yogyakarta, 1997
Ahmad gausS, Melintasi Batas Agama, Gramedia, Jaakarta, 1998
Azzumardi Azra, Agama Dalam Intrepretasi Sosiologi, Rajawali press, 1996
Fachry Ali, Golongan Agama dan Etika Kekuasaan, risalah gusti, Surabaya,1996
Hendropuspito, sosiologi agama,gunung mulia: Yogyakarta, 1983
Muhaimin dkk, Kawasan dan Study Islam, kencana, Jakarta, 2005
Pius abdillah p, Kamus Ilmiah, arkola, Surabaya, 2005
WJS Poerwadinata, Kamus Umum Bahasa Indonsia, balai pustaka, Jakarta. 1976
Zainudin maliki, agama rakyat agama penguasa, galang press, Yogyakarta, 2000
Zuly Qodir, Agama Dalam Bayang-Bayang Kekuasaan, pustaka pelajar, Yogyakarta, 2001


[1] Zuly Qodir, Agama Dalam Bayang-Bayang Kekuasaan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001, hal. 123
[2] Muhaimin dkk, Kawasan dan Study Islam, Kencana, Jakarta, 2005, hal. 73
[3] WJS Poerwadinata, Kamus Umum Bahasa Indonsia, Balai Pustaka, Jakarta. 1976. Hal. 18
[4] Hendropuspito, Sosiologi Agama,Penerbit Gunung Mulia, Yogyakarta, 1983, hal. 34
[5]Ibid, hal. 34
[6]Ibid hal 38-45
[7] Pius Abdillah p, Kamus Ilmiah, Arkola, Surabaya, 2005, hal. 330
[8] Zainudin Maliki, Agama Rakyat Agama Penguasa, Galang press, Yogyakarta, 2000, hal. 97
[9] Zuly qodir. Loc.Cit, hal. 126
[10] Fachry Ali,Golongan Agama dan Etika Kekuasaan,Risalah Gusti, Surabaya,1996, hal :73
[11] Abdullah, M. Amin, Studi Agama, pustaka pelajar, Yogyakarta, 1997, hal, 25 
[12] Azzumardi Azra, Agama Dalam Intrepretasi Sosiologi, Rajawali press, 1996, hal. 35
[13] Ahmad gausS, Melintasi Batas Agama, Gramedia, Jakarta, 1998 hal: 18


Rabu, 18 Desember 2013

AGAMA SEBAGAI KONTROL SOSIAL

Agama sebagai Kontrol Sosial



Agama adalah salah satu institusi besar dalam kehidupan manusia (masyarakat). Agama melalui postulat keagamaannya yang suci (ajaran agama) memiliki peran strategis dalam mengontrol kehidupan sosial umat manusia.
Sistem sosial ada dengan maksud untuk menata kehidupan sosial yang lebik baik, tapi mengingat agama bukanlah satu-satunya institusi sosial yang ada dimasyarakat, (juga ada negara) maka dua intitusi besar tersbut meski berada pada posisi yang sejajar, saling mengimbangi, dan mampu menjalin hubungan yang sifatnya harmonis. Namun faktanya tidak demikian, berbicara hubungan agama dan negara akan ditemukan relung dimana terjadinya sebuah ketimpangan dalam posisi keduanya. Agama kerap berada dibawah dominasi negara.
Sebagaimana disitir oleh Michel Lowy (2003) bahwa “perselisihan yang dipicu oleh masalah agama, kini mengancam kehidupan berbangsa kita. Sejarah kemanusiaan hancur setelah kobaran kebencian membakar perasaan masing-masing pemeluk agama. Jauh dari kebencian itu semua, ada permasalahan mendasar yang terus menerus ditanam. Kekuasaan yang seharusnya melindungi bersama-sama dengan kaum pemodal, telah meletakkan agama dibawah pengaruh kekuasaannya. Agama dipaksa untuk melayani keperluan, baik penguasa maupun pemodal. Adalah paradoksal melihat ketidakadilan, Agama tidak memebri reaksi. Sebaliknya ketika kekuasaan berhasrat untuk mempertahankan kelestariannya, agama serta merta mencari dasar teologis pembenarnya”[1].
Rasanya tidak terlalu berlebihan apa yang disitir oleh Michel Lowy diatas, bila Mencoba mencermati realita kehidupan sosial-keagamaan hari ini. Sebagai institusi yang memiliki peran penting dalam mengontrol kehidupan sosial manusia, agama mesti melakukan reposisi agar mampu mengoptimalkan fungsi kontrolnya dalam kehidupan sosial manusia.
            Sejarah kemunculan agama-agama memberikan indikasi bahwasanya agama lahir sebagai “kritik”atas realitas kehidupan sosial masyarakat. Dapat dikatakan, rata-rata kondisi sosial masyarakat-dimana sebuah agama lahir-cenderung amoral dan semrawut. Logika kehidupan kaum barbarian begitu dominan, kehidupan dibaluti dengan hukum rimba dimana yang kuat menindas yang lemah. Dalam kondisi seperti inilah, keberadaan seseorang yang perduli dengan realitas tersebut akan menapaki jejak “mengembara” untuk menemukan formulasi yang tepat agar dapat merubah kehidupan yang demikian. Orang-orang inilah yang kemudian kita kenal sebagai Nabi, yang datang membawa spirit kebenaran atas nama Agama.
Proses kemunculan agama Budha misalkan, tidak jauh dari apa yang dipaparkan disatu paragrap diatas, dimana Sidharta Gautama melakukan perjalanan panjang setelah ia melihat realitas kehidupan manusia diluar istana (mengingat Sidharta adalah putra kerajaan). Dalam perjalanan panjangnya ia kemudian menemukan konsep-konsep ilahiah untuk mengatasi persoalan sosial dimasyarakatnya. Hasil “semedinya” itulah yang lalu didakwahkan kepada masyarakat. Begitu pula dengan kemunculan agama Kong Hu Cu, Konfuse sebagai pembawa ajaran agama Kong Hu Cu juga melakukan hal yang sama dengan Sidharta Gautama. Tak terkecuali juga dengan Nabi Muhammad SAW, yang juga melakukan pertapaan di Gua Hira` lantaran kemuakannya melihat kondisi sosial masyarakat Arab waktu itu. Dalam proses penyendiriannya di Gua Hira` itulah ia lalu didatangi oleh malaikta Jibril yang membawakan wahyu kepadanya. Hasil menyendirinya itulah yang ia sebarluaskan dimasyarakat Arab, dimana pasca dakwahnya kondisi sosial masyarakat Arab dapat berubah menjadi lebih baik.  
            Saya tidak ingin mengekplorasi sejarah kemunculan dan perkembangan agama lebih jauh, karena tentunya kita semua sudah sering dijejali oleh pengetahuan semacam itu. Tapi paling tidak dari cerita sekilas diatas, kita bisa menemukan peran agama yang begitu mendasar dan strategis dalam mengontrol bahkan merubah kehidupan sosial masyarakat. Fakta sejarah (historical fact) diatas mampu mengarahkan kita pada sebuah pemahaman bahwasanya agama lahir memang diperuntukkan untuk kepentingan manusia, sekaligus sebagai pegangan (way of life) serta bimbingan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya, agar terbentuk sebuah kerangka kehidupan yang lebih baik, humanis, serta harmonis. Harapan seperti ini pantas kita tanamkan dalam lubuk hati setiap manusia yang beragama.
            Kondisi kehidupan sosial hari ini tidak jauh beda dengan masa-masa kemunculan agama-agama. Tingginya angka kriminalitas, seringnya terjadi pemerkosaaan di angkutan umum, banyaknya kasus pembunuhan, pencurian, trend seks bebas yang banyak terjadi dikalangan remaja, bobroknya moralitas para pejabat dan elite politik, adalah indikasi-indikasi yang mengarah pada perilaku kehidupan masyarakat primitif. Kondisi seperti ini sebenarnya adalah muara tempat dimana agama seharusnya mampu menemukan posisinya untuk mengontrol bahkan menyehatkan kehidupan sosial hari ini.   
            Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah pada tingkat usaha agama dalam merealisasi fungsi kontrolnya, mengingat agama bukanlah satu-satunya institusi sosial dalam kahidupan manusia, tapi juga ada Negara di sisi lainnya. Berbicara peran agama pada tataran ini, maka akan ditemukan titik perselisihan diantara keduanya. Terlebih lagi bila berbicara dalam lokalitas keindonesiaan, dimana konteks kehidupan keberagamaan di Indonesia, selalu merupakan bagian integral dari proses-proses politik. Konsekuensi ini muncul karena relasi agama-negara sangat plastis yang memungkinkan agama selalu berada pada titik persinggungan dengan politik (negara). Negara selalu berupaya untuk menunjukkan dirinya dalam setiap level kehidupan masyarakat, termasuk agama[2].  
       Usaha agama dalam menjalankan fungsi kontrol
a.    Jalan Politik
Langkah politis kerap diambil agama (tokoh-tokoh agama) untuk menyalurkan fungsi kontrolnya. Logikanya adalah ketika agama mampu meraih tampuk kekuasaan, maka dengan sendirinya akan mendatangkan kemudahan dalam mengontrol laju kehidupan sosial masyarakat. Tapi hal ini, dapat dikatakan belum mampu terealisasi, karena agama akan bersinggungan dengan adanya perspektif negatif tatkala agama memasuki wilayah yang di cap “kotor” dan penuh dengan kemunafikan ini.
Bahkan langkah ini kerap menjadi bumerang bagi eksistensi dan pencitraan agama sendiri, karena kesan adanya “politisasi agama” akan begitu menguat di masyarakat. Agama hanya akan dimanfaatkan sebagai media pendulang suara semata dalam sebuah kompetisi politik. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. John A Titaly, Th.D Bahwa “politisasi agama adalah upaya mempergunakan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik tertentu, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun institusi tertentu. Itu bisa terjadi karena ada kerjasama dari para pemimpin agama. pada umunya yang lebih diuntungkan dalam upaya seperti ini adalah para politisinya ketimbang para pemimpin agamanya. Kalaupun para pemimpin agama nampaknya menikmati keuntungan, maka sudah tentu keuntungan itu adalah keuntungan politik mereka senidir, bukan kepentingan agama”[3]. 
b.    Kemunculan Organisasi Berbasis Agama
Bak jamur di musim hujan, kemunculan organ berbasis agama begitu banyak di masyarakat, fenomena ini juga dapat diposisikan sebagai langkah agama dalam menempuh fungsi kontrolnya. Keberadaan NU, Muhammaiyah, FPI, HTI, MMI, adalah wajah organ berbasis agama di masyarakat. Tapi bentuk controlling organ-organ ini lebih bersifat sektoral, dan belum mampu menasionalisasikan gerakan-gerakan kontrolnya.
c.    Pemanfaatan Tekhnologi
Yang dimaksudkan disini adalah kemunculan banyak pendakwah di media (TV). Acara bernuansa keagmaan akan banyak kita temukan di layar kaca, hal ini juga adalah bagian dari melaksanakan fungsi kontrol agama        
Kendala-kendala agama dalam menjalani fungsi kontrol
1.    Adanya ketimpangan relasi Agama-Negara
Ketimpangan ini berujud pada terjadinya dominasi negara terhadap agama atau Meminjam judul bukunya Tedi Kholiludin “Kuasa Negara atas Agama”. Konsekuensi yang terbangun dari situasi semacam ini adalah sempitnya ruang agama dalam melakukan fungsi kontrolnya. Setiap usaha agama mesti dijadikan sebagai Undang-Undang negara baru bisa diteruskan kepada masyarakat.
2.    Masih kurangnya pemahaman keagamaan masyarakat
Spirit keberagamaan di masyarakat memang tinggi, tapi hal ini akan kontraproduktif bila tidak diimbangi oleh adanya pemahaman terhadap ajaran agama yang juga mesti tinggi. Karena bila tidak terjadi keseimbangan antara spirit keberagamaan dan pemahaman keagamaan, maka hal ini akan cenderung mengarahkan manusia pada sikap fanatik (fanatic attitude) dan sikap keberagamaan yang sempit (narrow religiousity) dan sikap fundamentalis[4].        
Agama menempati posisi fumdamental dan strategis dalam kehidupan sosial masyarakat, sehingga agama mesti menyadari posisi ini. Kondisi kehidupan sosial yang masih jauh dari ideal ajaran agama, mesti segera dirubah. Agama mesti menempuh jalan dakwah yang lebih efektif untuk mentranformasikan nilai-nilai keagamaan ke masyarakat. Juga mesti pandai-pandai memilih strategi dan substansi dakwahan agar kesan penyampaian khutbah keagmaan tidak hanya mengajarkan manusia cara membangun jembatan menuju surga, sementara selangkah lagi manusia akan terjatuh dalam kubangan neraka. 
Daptar Bacaan
Hanafi. Hasan dkk, 2006, Islam dan Humanisme Aktualisasi Humanisme Islam Ditengah Krisis Humanisme Universal. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Kholiludin. Tedi, 2009, Kuasa Negara Atas Agama Politik Pengakuan, “Diskursus Agama Resmi” dan Deskriminasi Hak sipil. Semarang : RaSAIL
Komarudin. Hidayat, 2008, The Wisdom Of Life Menjawab Kegelisahan hidup dan Agama. Jakarta : Kompas
Lowy. Michael, 2003, Teologi Pembebasan, Yogayakrta : Pustaka Pelajar dan insist   
  


[1] Michael Lowy, 2003, Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan insist
[2] Baca lebih lanjut dalam Tedi, Kholiluddin. 2009. Kuasa Negara Atas Agama Politik Pengakuan, “Diskursus Agama Resmi” dan Deskriminasi Hak Sipil. Semarang : RaSAIL Media Group. hlm : 125
[3] John, A Tilaty. 2009. Kata Pengantar Kala Tuhan Dipolitisasi Pengakuan ATAS Agama dan Masalah Kebebasan Beragama Di Indonesia” dalam Ibid, hlm : XI
[4] Abu, Hatsin. 2006. Kata Pengantar. dalam Islam dan Humanisme Aktualisasi Humanisme Islam di tengah krisi humansime universal. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. hlm : vii